Tampilkan postingan dengan label activities. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label activities. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 Februari 2010

MARIA BERULAH LAGI !!!

Akhirnya menulis lagi,,

setelah beberapa waktu mulai melupakan komitmen yang saya buat di awal kemarin, facebook memang membahayakan (ini serius berbahaya, lihat saja berita, berapa banyak sudah anak hilang korban facebook-an). Hmm, tapi saya masih dalam tahap membahayakan yang berkenan rasanya, belum sampai menghilangkan anak orang.

Baiklah, ini tulisan ke sekian yang diawali dengan kebingungan. Lebih pada sebuah keterpaksaan karena komitmen yang sudah terlanjur diucapkan. Saya mulai dari mana ya? Oya, jadwal menikah saya mungkin akan menjadi sedikit panjang, tahun 2012, menunggu giliran setelah kakak perempuan saya, lalu kegiatan masih menyenangkan seperti biasanya, bahkan lebih luar biasa, saya akan segera dapat pengalaman baru, BERTANI !!! Mungkin saya ceritakan lain waktu, mulai minggu depan, jadi tetap simak blog ini.

Oya, saya ceritakan tentang kabar MARIA saja ya? Mau dengar? Sudahlah anda jawab mau atau tidak pun saya tetap akan menuliskannya.

Sekedar me-review, MARIA adalah nama kucing saya, kucing kampung kurus dengan perpaduan warna bulu jingga dan putih yang dominan. Di tulisan sebelumnya saya telah menceritakan apa yang telah kucing ini berikan (penghuni baru itu.red) sekarang saya akan menceritakan lagi apa yang telah ia berikan pada saya, benar-benar kepada saya.

MARIA adalah tipikal kucing yang gampang sekali hamil menurut saya terlalu sering hingga saya sulit akhirnya mengidentifikasi yang mana pasangannya. bukan masalah sebenarnya sebelum ia menjadi bagian dari rumah kami, tapi begitu menjadi bagian dari rumah kami ada satu lagi yang ia berkan pada saya, sebuah pekerjaan.

Kucing kurus ini sengaja memilih tempat yang sulit untuk melahirkan anaknya, kotak berisi kain yang disediakan tak ia hiraukan. Ia lebih memilih bersalin di atas plafon rumah kami. Masalah dimulai setelah itu, pertama kali kami mengetahui dia melahirkan disana adalah karena ribut suara kucing diatas plafon saat tengah malam, iya beneran tengah malam. Jadilah si Maria itu sukses mengacaukan waktu istirahat kami.

Semenjak itu, tiap hari saya harus naik-turun ke atas plafon untuk memeriksa apakah anak-anak Maria masih hidup atau tidak, dan repotnya hampir tiap hari saya harus mengambil mayat anak kucing yang mati, berhadapan dengan maria yang berubah agresif. sampai tulisan ini ditulis anak kucing itu tinggal tersisa 1 ekor dari total 4 ekor, dan sekarang entah keman perginya tapi anak kucing itu sudah tak lagi menghuni plafon rumah kami.

Sekali lagi gara-gara ulah Maria saya menemukan sesuatu, rumah yang saya kira kecdil dan sempit ini ternyata begitu luasnya. terbukti ada bagian dari rumah saya yang masih jarang saya kunjungi. Kadang kebiasaan mengeluh membuat kita melupakan anugrah apa yang kita miliki saat ini.
Continue reading...

Kamis, 07 Januari 2010

ANGGOTA DEWAN MEMANG WAJIB BERANTEM


Sepulang dari nagoya Hill kemarin saya melihat liputan di METRO TV tentang perseteruan antara Gayus dan Ruhut. Terpaksa saya berhenti sejenak untuk melihat liputan tersebut, menarik sekali menurut saya. Memang harus begini, menjadi anggota dewan memang harus adu mulut seperti ini. Jangankan cuma adu mulut kalau perlu mereka harusnya sampai berantem.

Berikut petikan adu mulut kedua politisi tersebut, yang tentunya, dilakukan dengan nada suara tinggi, bahkan berteriak. saya ambil dari batam pos :

RUHUT dan GAYUS

"Ruhut : Anda sebagai pimpinan harus tegas, jangan molor-molor gini. (dengan logat khas Batak nya)

Gayus : Ada waktunya anda menyampaikan pendapat internal dan eksternal, yang ini cukup.

Ruhut : Oke, tapi kalau begitu pimpinan, kita konsekuen, sampai jam 4 pagi pun juga oke. Akupun sampai seminggu disini juga siap, buktinya aku duduk terus.
Jangan nanti anda tanya trus nanti anda keluar, saya gak setuju.

Gayus : Anda minta saya keluar?

Ruhut : Enggak, saudara jangan marah-marah. Kemarin anda sudah marahi saya terus keluar.

Gayus
: Memangnya Anda melihat saya keluar?

Ruhut : Oke jangan marah-marah, sebentar, aduh marah-maraaah, kamu ini profesor. Aku ini nggak profesor tapi nggak marah-marah.

Gayus : Anda jangan kurang ajar nyebut profesor.

Ruhut : Saya nggak ngomong kurang ajar. Terima kasih boosss...

Gayus : Jangan kurang ajar kau.

Ruhut : Kau yang jangan kurang ajar. Kenapa, nggak senang, kau lempar palu ke aku. (menantang)

Gayus : Sudah...sudah...harusnya Pansus menegur Ruhut supaya dikembalikan ke fraksinya karena selalu bikin gaduh...

Ruhut : Apa urusannya, kau PDIP, aku Demokrat...aku hanya ingin fair, PDIP sudah banyak (waktunya)...fraksi lainnya hanya 20 menit, mentang-mentang... terimakasih.

Gayus : Hak pimpinan sangat penuh untuk mengatur, Anda jangan mengacaukan rapat ini.

Ruhut : Di sini sama kita pimpinan. Terima kasiiiih...profesoooor.

Gayus : Sudah...kamu sudah...

Ruhut : Ya sudah, jangan ngoceh lagi...

Gayus : Saya tanya, sudah belum?...yang mimpin saya, bukan Anda

Ruhut : Sesama anggota pansus, kita berdiri sama tinggi

Gayus : Siapa bilang tinggi aku ama kau (ruangan riuh karena tawa keras)

Ruhut : Idrus Marham, tolong ambil alih dulu nih..wakil saudara ini sudah mulai aneh-aneh

Gayus : Diam kau

Ruhut : Jangan bilang diam

Gayus : Satu kalimat, Diam kau!

Ruhut : Kau yang diam, bangsat !!! (suasana makin riuh)

Gayus : Hei, Anda menyebut kata-kata kotor untuk pimpinan

Ruhut : Heh, Anda apa dari tadi nggak kotor. Anda gak boleh begitu.

Gayus : Diam kau!!

Anggota pansus lain coba terus melerai : Sudah...sudah...sudah... "


Seru kan.

Continue reading...

Sabtu, 02 Januari 2010

Jadi Tertawalah ! ! !


Memulai menulis di blog kembali artinya saya harus mulai dari awal lagi. Yah tidak terlalu awal juga, mungkin cukup me-refresh sedikit otak saya. Untuk memulai kegiatan menulis hal yang saya yakini sampai saat ini adalah "membaca". Heran rasanya kalau mendengar ada orang yang suka menulis tapi tak suka membaca, betapa sombongnya orang seperti ini menurut saya. Menurut saya loh, kalau menurut sampeyan wajar ya silakan.

Oya, memulai tulisan ini sebelumnya saya ingin memberikan tebak-tebakan untuk mereka yang sudi membaca. Jawabannya boleh tulis di kolom komentara atau shoutmix yang ada di sebelah kanan. "Binatang apa yang namanya cuman 1 huruf selain I KAN?" Jawab dan mulailah dengan tertawa, karena tawa akan mengubah keseluruhan hari anda. Saya JAMIN!!

Baiklah jadi tulisan ini tentang apa sebenarnya? Hanya ugkapan hati sebenarnya. Bagi yang tak berkenan boleh segera berhenti membaca. Hehehee,,

Tapi kalau memang anda ingin meneruskan membaca tulisan ini maka saya akan berikan anda manfaat dari membaca tulisan ini, pertama membaca dan kedua tertawa. 2 hal ini adalah yang terpenting untuk saya saat ini. dengan 2 kegiatan ini saya memperoleh kebahagiaan saya. Efeknya jangan tanya lagi, keseluruhan hidup anda akan berubah menjadi sepenuhnya kegembiraan sekalipun anda seorang pengangguran. Tapi bukan kemudian diam tanpa berusaha, pasrah jadi pengangguran. Tetap saja harus berusaha, mencari peluang menjadi UANG.

Jadi segera temukan hal-hal yang membuat anda gembira, jangan biarkan kesedihan masuk merusak hari indah anda.
Continue reading...

Senin, 16 November 2009

THE LAST SAMURAI, JEPANG MEMANG MENGAGUMKAN



Sekali lagi saya membuktikan bahwa untuk urusan update film saya adalah orang yang paling ketinggalan. Malam ini, saya baru saja selesai menonton film The Last Samurai. Berawal dari kegelisahan karena kapasitas disk D di laptop mulai penuh, maka saya mulai mencari file apa yang seharusnya dihapus. Saat mencari di folder film (folder ini yang ukuran datanya paling besar) saya menemukan file film ini. Alhasil, alih-alih meremajakan harddisk saya mulai asyik menonton.

The Story
Film ini bermula ketika Nathan Algren (Tom Cruise) seorang mantan kapten perang ditawari melatih pasukan Jepang untuk menumpas pemberontak. Hal yang mengingatkannya kembali akan kenangan masa lalunya ketika ia menjadi kapten saat perang melawan pasukan Indian. Dengan diimingi gaji yang tinggi akhirnya Algren menerima permintaan tersebut.

Dimulailah latihan tersebut. Para pasukan Jepang yang berasal dari rakyat jelata dan petani dilatih untuk menggunakan senapan mesin. Saat pasukan masih belum mahir menggunakan senjata perintah perang melawan pemberontak telah diserukan. Berawal dari diserangnya kereta milik kaisar oleh kelompok Katsumoto (Ken Watanabe), Omura juru bicara kaisar memerintahkan agar prajurit yang masih amatir ini turun berperang.

Hasilnya dapat diterka, kalah telak. Algren yang menolak mundur melihat dari garis belakang ditawan oleh Katsumoto. Dibawa ke desa markas pasukan pemberontak Algren dirawat oleh Taka (Koyuki) seorang istri dari prajurit Katsumoto yang dibunuhnya. Kepatuhan Taka pada Katsumoto membuatnya tetap merawat Algren dengan baik sekalipun dalam hati ia dendam karena suaminya terbunuh.

Perlahan Algren mengenal kultur budaya para pasukan samurai yang disebut pemberontak itu. Pasukan yang terasingkan dan dianggap pemberontak karena kemajuan zaman, pasukan yang turun temurun melindungi rakyat dan terlupakan karena budaya mulai terlupakan, pasukan yang dianggap pemberontak hanya karena ingin melindungi kaisar dari budaya asing. Algren yang sedikit-sedikit mempelajari budaya samurai itu mulai mencintai apa yang tadinya menjadi musuhnya.

Para Samurai itu sejak bangun pagi hari senantiasa mendedikasikan dirinya untuk kesempurnaan. Sebuah kedisiplinan yang belum pernah dilihatnya selama ini. Sampai akhirnya ia mendapatkan inti tentang semangat ksatria, semangat bushido. Sebuah budaya yang mengontrol seluruh tindakan rakyat jepang, para samurai.

Di akhir cerita, film ini berkisah tragis. Seluruh pasukan samurai kecuali Algren tewas di peperangan. Namun semangat pantang menyerah dari para samurai itu berhasil menyadarkan para pasukan jepang akan siapa sebenarnya yang mereka lawan. Ksatria pelindung mereka selama ini.

Terbukti, kematian Katsumoto yang merupakan guru kaisar beserta seluruh samurai lainnya tidak sia-sia. Kaisar yang selama ini dikontrol Omura mulai mengambil sikap. Ia membatalkan perjanjian kerjasama dengan Amerika karena tak menguntungkan rakyatnya. Ia ingat kembali dengan semangat samurai yang diajarkan Katsumoto, bahwa modernitas tak harus membuat kita lupa dari mana kita berasal.

Selesai nonton
Sekali lagi setelah nonton film ini saya makin mengagumi Jepang. Apapun tentang Negara ini selalu menarik ketika ia dikisahkan. Nampak jelas sekali kalau Jepang sangat menghargai budayanya. Mengangkat budayanya lewat modernitas agar dikenal, disenangi dan dikagumi oleh seluruh dunia. Pakaian, adat, sopan santun, etika semua diperlihatkan.

Siapa yang tidak tahu kalau orang Jepang akan membungkuk ketika memberi salam sebagai penghormatan. Siapa yang tidak tahu kalau Ramen, Sake, Dorayaki adalah makanan khas jepang dan siapa yang tidak tahu instrument musik Jepang tanpa harus menunggu syairnya dinyanyikan.

Di film, komik, animasi semua tak lupa menampilkan itu. Sebuah media untuk memperkenalkan budayanya pada dunia. Dan terbukti berhasil bahkan mampu membuat anak-anak muda di sebuah Negara besar banyak yang meniru gaya mereka.

Akhirnya saya hanya bisa merenung, di Negara saya ada budaya yang harus di klaim dulu oleh Negara tetangga baru sibuk dipromosikan, di Negara saya ada makanan yang dicuri oleh Negara tetangga baru sibuk mengganyang. Bingung, padahal ketika tak ada klaim barang tersebut tak pernah menjadi sesuatu yang penting, tak dipedulikan sama sekali. Lantas kenapa marah kalau barang yang tak kita pedulikan itu diambil orang karena mereka anggap itu sangat berharga. Mungkin kita perlu sedikit menumbuhkan kesadaran untuk mencintai budaya kita sendiri. Menyertakannya di setiap karya yang kita buat. Kalau misalnya ngeband coba masukin angklung sebagai salah satu alat musiknya. Kalau bikin pementasan teater pake dong batiknya, atau kalau bikin puisi kenapa ga coba pake bahasa daerah.

Hmm, susah kalau anggapan keren adalah seperti Negara super power.

Tapi kemudian saya ingat, apa yang sudah saya lakukan untuk melestarikan budaya Negara ini. Main musik jelas saya tak bisa, ikut teater saya bukan aktor yang bisa bermain teater, bikin puisi dan membacakannya, ah saya terlalu malu. Tak ada yang bisa saya lakukan, hmm tidak juga. Kalau saya tidak bisa itu semua mungkin saya cukup tersenyum setiap kali bertemu orang agar bangsa ini tetap dikenal keramahannya.

Continue reading...

Selasa, 08 September 2009

PILKARET DI KAMPUNG SAYA (Bagian -1)

“Ya Alloh Lunasilah hutang-hutangku, serta jauhkanlah aku dari kemalasan serta kemiskinan”
Amiiin.

Sengaja saya buka dengan doa seperti ini karena akhir-akhir ini saya malas sekali menulis. Alhasil jadilah blog ini seperti terbengkalai. Ada banyak hal yang ingin saya tuliskan sebenarnya, kegelisahan, cemas, bahagia, sedih dan lainnya hanya saja ketika ia diniatkan agar menjadi tulisan maka kemalasan dengan derasnya melanda.

Semenjak lulus kuliah kemarin praktis seharian saya di rumah terus. Harusnya menulis bisa menjadi lebih produktif karena tak ada kerja lainnya, tapi ternyata saya salah. Diam membuat saya jadi tak peka dengan keadaan sekeliling. Berita saya ketinggalan, informasi kehilangan, hasilnya saya makin terpuruk dalam kemalasan.

Ternyata benar adanya, emotion depend on motion. Ketika diam maka emosi juga cenderung stabil tak ada yang membuatnya menggelegak sedemikian rupa. Tapi akhirnya saya tahu, cara untuk mengatsinya mudah saja. Saya harus terus bergerak.

Banyak hal yang terjadi belakangan ini, mulai dari konflik Indonesia – Malaysia, Pelantikan anggota dewan yang baru, tawaran pekerjaan, Target menamatkan novel baru, proses pencarian novel yang akan diterbitkan hingga Ibu saya yang menolak ditawari jadi RT.

Saya tak ingin membahas semuanya. Konflik Indonesia – Malaysia, saya malas menanggapi masalah adu domba seperti ini. Pelantikan anggota dewan yang baru, harapan saya semoga mereka bisa menjaga dirinya sendiri dari godaan di dewan selama 5 tahun ke depan. Tawaran pekerjaan, saya masih belum berminat untuk mencari kerja [di Lobam, terancam tidak lebaran nanti]. Novel “Negeri 5 Menara”, ini novel wajib baca sepertinya. Tinggal tunggu dia jadi best seller dan semua orang rebutan buat beli. Selanjutnya dalam 2 minggu ini sudah ada 2 orang yang mengirimkan naskahnya untuk diterbitkan di newParadigma, tinggal proses seleksi.

Nah, ini yang terakhir dan terpenting. Pemilihan RT di kampung saya.

Saya ingin membahas tentang ini. Rasanya lebih menarik. Tidak terlalu rumit, jadi tidak terlalu memaksakan otak saya bekerja terlalu keras. Maklum punya saya cukup pas-pasan, takutnya bakal overheat kalau terlalu dipaksakan.

Tapi sayang, rasanya saya sudah terlalu mengantuk. Cerita tentang pemilihan RT di kampung saya terpaksa harus ditunda di postingan selanjutnya.

***

Continue reading...

Senin, 10 Agustus 2009

3 Tahun Belakangan Ini,,

Malam tadi sambil menunggu pesan singkat dari seseorang, saya mendapatkan sebuah pesan dari teman saya. Teman satu ini banyak menginspirasi saya dalam kehidupan kampus saya. Secara fisik tak ada yang terlalu istimewa darinya hanya saja kepercayaan diri serta tekadnya menjadikan tampilan fisiknya itu tak lagi menjadi penting. Ya, saya menghormatinya dengan sangat.

Isi pesan singkat yang dikirimkan pada saya dan teman yang lain tentunya (salah satu cara untuk menghabiskan bonus sms) adalah :

“Selamet ya bro,
12 hr lg uda gak jd mhs da jd amd.
Kalo dpt info gawe atw usha jarngan
jangn puts”


Langsung ada yang menohok seketika saat saya membaca pesan ini. 3 tahun rasanya cepat berlalu, baru kemarin rasanya mengalami OSPEK dan sekarang hanya tinggal 12 hari lagi saya memiliki status sebagai mahasiswa. Kehidupan kampus akan segera berakhir dan kehidupan sesunguhnya akan segera dimulai, sebuah Universitas Kehidupan yang sangat luas. 3 tahun di kampus saat ini adalah laboratorium, tempat uji coba untuk masuk ke universitas kehidupan. Semuanya akan diuji, akan menjadi apakah setelah tamat kuliah, menjadi mutiara atau sampah.

Nostalgia semasa kuliah rasanya kembali berputar dalam ingatan saya saat itu. Ya, kampus itu telah memberikan saya berjuta warna baru bagi kehidupan saya. Di kampus itu saya bertransformasi menjadi orang yang berbeda dari saat saya sekolah dulu. Dan proses transformasi ini saya anggap sebagai sebuah keberhasilan dari kenaikan mutu hidup saya sebagai seorang manusia. Karena kalau selama 3 tahun ini tak ada perubahan berarti dalam diri saya maka pastilah kegagalan akan mewarnai kehidupan saya selanjutnya.

Banyak hal terjadi di kampus itu, suka, duka, marah, benci, cinta, orasi, retorika, organisasi, teman, rival, sahabat, keluarga dan banyak lagi lainnya.

Terlalu banyak yang ditanamkan sehingga tak ingin rasanya kehilangan, karena akan terlalu banyak yang harus hilang kalau itu sampai terjadi. Kalau pun harus berpisah saya tak ingin kehilangan. Biarlah rasa itu tetap seperti ini.

Saya mencintai semuanya..

***

Continue reading...

Kamis, 06 Agustus 2009

KETIKA “SANG MUNAFIK” BEKERJA

Kemarin saya baru saja menonton sebuah reality show yang sungguh sangat tidak bermutu. Acara televisi dari hari ke hari makin tak mendidik saja rasanya, sampai reality show seperti ini pun diputar juga. Ada sedikit perubahan dari acara reality show ini dari yang biasanya. Kalau biasanya menggunakan sistem investigasi maka kali ini formatnya berada dalam studio. Tapi permasalahan yang dibahas tetap saja masalah cinta.

Tingkah laku orang-orang ini, yang membuka aibnya di depan umum sungguh memalukan. Ingin rasanya memaki kalau perlu memukuli orang yang terlibat dalam acara tersebut saking bencinya saya pada apa yang mereka lakukan.

Sekarang mari saya ceritakan ulang betapa bodoh dan noraknya orang-orang ini. Ceritanya bermula tentang laporan adanya permasalahan entah dari pasangan tak resmi (pacar.red) atau dari sahabatnya sendiri kurang tahu juga karena saya menontonnya saat pertengahan. Yang pasti ketika itu mereka terlibat adu mulut. Si tersangka sedang marah karena sahabatnya sendiri ternyata mengkhianati dengan menceritakan perilakunya pada pacarnya. Dia menuduh kalau sahabatnya itu berbohong padanya, tapi yang sebenarnya si sahabat ini hanya dendam karena pacarnya direbut si tersangka ini. Sementara diantaranya pacar si tersangka sudah menangis dengan tersedu-sedu.

Keadaan makin runyam, si tersangka makin tersudut ketika si sahabat membawa pacarnya untuk memberikan kesaksian. Lalu muncul pula pasangan tak resmi (pacarlagi.red) yang tentu saja makin memojokkan si tersangka ini. Wajahnya sudah pucat pasi, keadaanyya saat ini sudah seperti maling yang tertangkap basah oleh warga, bedanya yang memergokinya saat ini adalah jutaan pasang mata masyarakat Indonesia. Saya prediksikan keadaannya saat itu pastilah lebih parah dari maling yang dipergoki warga tersebut. Dipukuli secara fisik memang tidak, tapi dipukuli secara psikis hingga malu seperti itu pasti efeknya lebih parah ketimbang maling tadi.

Dan akhirnya, si sahabat tadi mengeluarkan kartu truf nya dengan mengatakan bahwa si tersangka adalah simpanan tante-tante. Haha, dan tentu saja ini sudah merupakan pukulan yang sangat telak untuk membuat mental si tersangka ini jatuh di dasar yang dalam sekali.

Sepanjang pertunjukan ini saya terus memaki orang-orang ini, mengomentari betapa bodohnya orang-orang ini dan mengkritisi serta menuntut agar acara ini baiknya dihilangkan saja karena tak mendidik sama sekali. Tapi perlahan dalam memaki itu saya kembali melihat diri sendiri, kalau saya memang tak suka kenapa saya bisa terus menonton acara ini walaupun sambil memaki, kalau saya anggap orang –orang ini bodoh karena membuka aibnya sendiri maka pastinya saya lebih bodoh lagi karena menonton acara bodoh ini, kalau saya menuntut untuk menghapus acara ini, kenapa saya terus menonton dan menikmati.

Akhirnya saya sadari saya tak semulia itu, kalau hanya untuk sekedar masalah acara tak berkualitas saja saya bisa munafik seperti ini pastilah saya hanya seorang yang suka berpura-pura mulia di hadapan forum mulia.

Ah, baru sebatas ini ternyata perjalanan kehidupan spiritual saya..

***

Continue reading...

Kamis, 30 Juli 2009

KAMU BERAPA SEJAM?

Akhir-akhir ini pertanyaan semacam ini sering saya pertanyakan pada teman-teman terdekat saya. “Kamu Berapa Sejam?” Tanggapannya bermacam-macam, ada yang sambil bercanda, sewot dan menganggap kurang ajar, pura-pura tak mengerti, memandang dengan ekspresi jijik dan lainnya, yang pasti dari seluruh reaksi semuanya bersifat negatif. Hanya ada satu teman saya yang langsung menjawab dengan senang hati. Haha, anak ini memang berbeda.

Rasanya tak ada yang salah dengan pertanyaan ini. Ia serupa saja dengan pertanyaan-pertanyaan lainnya, positif atau negatif tergantung bagaimana cara memandangnya saja. Tapi dari reaksi yang diberikan teman-teman saya hanya satu jawaban yang bisa disimpulkan. Ini pertanyaan negatif.

Dan karena ini pertanyaan negatif maka reaksi seperti itu sah saja diberikan. Masih untung tidak sampai ditampar atau ditendang. Tapi dalam hati, bukan reaksi semacam ini sebenarnya yang saya harapkan. Saya mengharapkan jawaban yang lebih positif.

Bagi saya sendiri pertanyaan ini menyadarkan kita bahwa selama ini kita kerap kali memberikan harga yang begitu murah pada waktu yang kita miliki. Time Value Of Yourself (TVoY), adalah kemampuan untuk menentukan seberapa mahal kita menghargai waktu yang dimiliki sehingga menyayangkan penggunaannya untuk sesuatu yang tidak bermanfaat. Rendahnya penghargaan terhadap TVoY mengakibatkan banyak waktu yang terbuang sia-sia hanya untuk melakukan hal-hal yang tidak produktif sama sekali. Kurangnya menghragai waktu ini juga menyebabkan sulitnya bangsa ini untuk maju.

Lihat saja, bagaimana mau maju, kalau pegawai yang ngurus negerinya (baca: PNS) bolos melulu, bagaimana mau bersaing kalau jam kerja sudah pada nangkring. Begitu murahnya kita menghargai waktu yang dimiliki membuat kita cenderung menjadi orang yang berleha-leha dalam menjalani kehidupan.

Waktu yang sebegitu pentingnya malah sering kita anggap remeh sama sekali. Padahal Tuhan saja, pemilik segala, ketika bersumpah ia menggunakan waktu. “Demi waktu”. Kita, yang kerap kali membawa nama Tuhan dalam bersumpah ternyata seringkali menyia-nyiakan waktu. Benda yang disebut oleh Tuhan itu.

Dan kalau pada akhirnya kita terus merugi karena si waktu, jangan sesali karena janji Tuhan memang begitu.

Continue reading...

Kamis, 23 Juli 2009

KETIKA SAYA INGIN TINDIK

Tindik atau body piercing adalah seni melubangi bagian tubuh, biasanya dilakukan di telinga, hidung, lidah, bibir atau bagian lainnya. Dulu, kegiatan ini dianggap sebagai sesuatu yang tabu. Menyerupai perempuan adalah dosa katanya. Tapi saat ini, ia seperti telah menjadi trend saja. Tak hanya penjahat, biang masalah yang kerap melakukan piercing pada tubuhnya tapi artis pun banyak. Atau artis dan biang masalah itu sama saja sebenarnya? Ah, saya tak terlalu paham tentang itu. Masalah tindik ini saya punya cerita sendiri tentangnya. Begitu membekasnya ia dalam ingatan saya hingga sulit sekali rasanya untuk melupakannya begitu saja.

Kejadiannya pada saat saya masih STM dulu, waktu itu saya sedang melaksanakan magang. Perusahaan tempat saya magang adalah perusahaan dengan jumlah anak magang paling ramai. Tak hanya dari STM tempat saya saja, tapi juga dari luar daerah seperti Bangkinang, Pekanbaru dan Padang. Sebuah pemandangan yang lebih terlihat seperti sebuah pemanfaatan.

Ada satu orang teman magang saya yang menarik perhatian saya saat itu. Dia teman yang berasal dari STM Padang. Wajahnya biasa saja kalau tak ingin untuk disebut parah. Yang menarik bagi saya pada saat itu adalah tindikan di telinganya. Tindikan itu sederhana saja sebenarnya, ia tidak dihiasi dengan anting yang begitu mahal harganya dan begitu keren bentuknya. Hanya sebuah anting bulat berwarna hitam biasa. Tapi entah kenapa hal ini menimbulkan keinginan saya untuk memiliki tindik juga di telinga saya.

Lama saya amati teman saya yang satu ini, hingga akhirnya saya tak tahan untuk menceritakan keinginan saya untuk tindik pada teman yang lain. seorang Kakak kelas saya, jauh di atas saya, saat itu dia sudah kerja disana. Mulanya sebelum saya menceritakan keinginan saya, saya memancingnya dulu dengan obrolan ringan seputar tindik.

“anak itu keren bang ya” kata saya padanya

“emang kenapa” jawabnya

“tindikannya itu, abang ga tindik?” tanya saya

Dan jawaban selanjutnya benar-benar mengubah seketika keinginan saya tersebut.

“Tindik itu cuman buat orang-orang ganteng” jawabnya sambil lalu

“??? Maksudnya???” saya bingung

“Ya, dengan tindik itu, orang – orang ganteng itu ingin menonjolkan kegantengannya. Ada sesuatu yang menarik pada diri mereka dan tindik itu adalah umpannya. Nah, kalo dia. udah kayak gitu, tindik pula. Itu bunuh diri namanya, menonjolkan kejelekannya sendiri. Rasanya tak ada yang lebih bodoh dibandingkan memperlihatkan keburukan sendiri”

Saya diam mendengar jawaban itu.

“Kenapa? Mau tindik?” tanyanya.

“Ga, nanya aj” elak saya

Semenjak itu, keinginan untuk tindik atau melakukan apapun pada diri ini saya hilangkan sama sekali. Tentu saja saya sangat sadar bahwa saya tak masuk dalam golongan orang-orang ganteng itu. Betapa menghargai apa yang telah diberikan adalah sebuah keharusan. Namun seringkali kita melakukan sesuatu yang terlalu memaksakan hingga akhirnya hanya membuka aib dan kebodohan sendiri.

***

Continue reading...

Sabtu, 18 Juli 2009

PENGHUNI BARU ITU

Akhir – akhir ini rumah saya kedatangan penghuni baru. Penghuni baru yang awalnya tak pernah saya perhatikan sama sekali. Kedatangannya hampir bersamaan dengan kepulangan ayah saya. Kebetulan, ah tak mungkin, katanya tak ada yang namanya kebetulan. Tapi rasanya semenjak renovasi rumah saya selesai penghuni baru tersebut makin banyak saja di rumah saya.

Saya bukan orang yang terlalu menyukai penghuni baru ini, tapi saya pun tidak membencinya. Bagi saya hewan ini hanya simbol kemalasan saja. Setiap hari kerjanya tidur-tiduran, minta dibelai dan mengeong minta makan. Ya, kucing-kucing kampung itu jadi banyak berkumpul di rumah saya belakangan ini, hanya sekedar untuk tidur-tiduran, dibelai atau meminta diberikan makanan sisa.

Dari sekian banyak kucing yang beredar di rumah saya, yang paling setia menunggui adalah kucing belang jingga dengan warna dasar putih ini. Sampai tulisan ini saya ketik kucing itu kami namai maria. Pilihan lainnya saphira ditolak, sedang nama usulan saya yang paling pertama dieliminasi. Padahal saya rasa “si Bodoh” itu nama yang cukup seksi.

Kucing ini sehari-hari kerjanya hanya tidur-tiduran saja. Kalau tak di keset depan rumah maka di ember berisikan karung yang ada di dekat pintu dapur. Tidur seharian, dan hanya bergerak ketika makanan diberikan. Makan, tidur, makan lagi mewah sekali hidup si kucing ini. Rezeki tiap makhluk memang sudah ada yang mengatur, bahkan untuk kucing yang begini pemalas pun ia masih bisa selalu kenyang dan tak terancam kelaparan.

Dari sekian banyak orang di rumah saya, Ayah saya adalah yang paling perhatian untuk urusan memberi makan kucing ini. Mulanya ia hanya mengumpulakan sisa-sisa makanan, kalau ikan maka tulang dan kepalanya adalah bagian untuk kucing ini, begitupun makanan lainnya. tak ada sisa yang tak diperuntukkan bagi kucing satu ini. Lama mendapat sisa, sekarang ini ada yang bertambah bagi menu si kucing ini. Kali ini tak sekedar sisa, ia bertambah menjadi nasi dan lauk sisa, hingga kami menyebutnya “nasi kucing” yang in benar-benar nasi untuk kucing.

Sekarang tiap kami selesai makan maka ada pesan yang selalu diteriakkan “sisanya jangan dibuang ke tempat sampah, kumpulin buat kucing”. Dan begitu sisanya sudah terkumpul maka ayah saya pun segera menyiapkan nasi kucing untuk diberikan ke peliharaan barunya itu.

Kehadiran kucing tersebut di rumah saya itu menyadarkan saya untuk mengagumi ayah saya akan kasih sayangnya. Terlalu jarang bertemu membuat saya seakan terlupa dengan salah satu orang yang paling penting dalam hidup saya ini. Terhadap kucing saja ia bisa begitu perhatiannya, kenapa saya tak pernah sadar akan kasih sayangnya itu selama ini. Kalau hanya cukup lewat kucing kampung ini saya tersadar akan sesuatu yang begini pentingnya pastilah kucing ini lebih mahal dari angora atau jenis kucing mahal lainnya.

***

Continue reading...

Rabu, 15 Juli 2009

Ini (bukan) Tulisan Cinta,,


Sampai hari ini, perlahan saya mulai mengenali diri. Pelan-pelan saya makin jelas tentang bagaimana saya selama ini. Rasanya ingin tertawa saja kalau ternyata apa yang saya lakukan selama ini bukan karena apa yang banyak orang lain bayangkan tentang saya. Melakukan penipuan, entahlah tapi rasanya bukan. Saat itu saya hanya belum mengenali kualitas diri saja.

Kalau sampai hari ini saya boleh mengklaim sendiri prestasi bagi diri ini, maka saya yang belum pernah berpacaran hingga saat ini mungkin bisa dijadikan salah satu rekor terbaik saya, salah satu prestasi saya. Bukan karena tak pernah jatuh cinta, tapi karena terlalu seringnya saya jatuh cinta.

Mulai dari SD saya sudah mencintai teman sekelas saya. Dan ini terus berlanjut hingga SMP, kemudian saat SMK dan hingga kini dari semester pertama hingga terakhir kuliah. Terhadap teman-teman wanita yang saya kenal selama bersekolah sulit bagi saya untuk tidak jatuh cinta. Terlalu lemah rasanya untuk tidak jatuh pada jebakan yang begitu sering hanya terlihat indah di luar namun banyak hal mematikan di dalamnya.

Tapi, mudahnya saya jatuh cinta tak berbanding lurus dengan mudahnya saya mengungkapkan cinta. Persoalan mengungkapkan cinta ini adalah persoalan yang sangat rumit dan sulit bagi saya. Ia serupa dengan pertaruhan harga diri. Dan saya bukan orang yang cukup kuat untuk malu menanggung luka pada harga diri ini. Lebih baik mati saja rasanya daripada harus menanggung malu seperti itu. Tapi persoalan bunuh diri ini pun bukan persoalan gampangan. Saya masih kerap belum siap untuk mati dengan cara seperti itu.

Jadilah selama ini, ekspresi cinta saya hanya saya lakukan di alam imajinasi. Ia lebih aman, lebih murah, dan lebih mudah. Saya bisa bebas kapan saya ingin mencintai, kapan saya ingin berhenti dan kapan mencintai lagi. Lebih aman pula karena saya bisa mencintai dua orang atau lebih tanpa harus mendapatkan siraman di muka seperti yang kerap diperlihatkan reality show saat ini. Lebih murah tentu saja karena mencintai dalam imajinasi tak perlu repot-repot menghabiskan ongkos untuk sekedar nonton, jalan atau makan.

rekor yang saya bukukan bukan karena kepatuhan saya terhadap nilai-nilai dan ajaran agama, saya bisa saja sering ngomong panjang lebar tentang larangan pacaran di depan orang, tapi kualitas diri saya bukan pada tahapan itu. Bukan karena kepatuhan itu. Lebih pada rasa malu saya, malu pada diri sendiri itu.

Dan tentu saja saya tak ingin membatasi diri untuk tidak jatuh cinta, karena cinta itu perlu bagi saya untuk menciptakan kedamaian dalam diri ini, menumbuhkan semangat kembali setiap hari. Maka untuk itu rasanya saya perlu lebih luas lagi dalam hal jatuh cinta ini, agar segala apa yang saya lakukan bisa selalu menggelora dan selalu luar biasa. Mungkin pada anak jalanan yang sibuk berjualan koran itu, ibu-ibu perkasa yang berjualan makanan menghidupi anak-anaknya atau siapapun orang yang saya temui di jalan.

***

Continue reading...

Sabtu, 11 Juli 2009

GURU KEHARMONISAN

Masalah makanan bukan menjadi sesuatu yang penting untuk saya. Asal lapar saya bisa makan apa saja tanpa peduli bagaimana rasanya. Mulai dari masakan jawa, padang, cina dan lainnya saya rasakan semuanya standar saja, walau ada 1 atau 2 yang menempati tempat spesial di hati saya.

Masakan yang paling saya senangi dulu adalah rendang. Masakan khas padang ini, begitu saja membuat saya jatuh hati padanya. Dulu saat Ibu saya memasak masakan ini saya bisa tambah berkali-kali karenanya. Bagi saya ia adalah makanan favorit saya saat itu. Aromanya yang khas, bentuknya yang menggoda dan rasa pedasnya yang luar biasa yang menjadi daya tarik bagi saya.

Tapi saat ini, masakan tersebut adalah masakan yang paling saya hindari. Bukan karena takut kolesterol, jantung atau penyakit-penyakit lainnya, tapi lebih karena keadaan saat ini sudah tak memungkinkan saya untuk dapat menikmati dengan khidmat masakan tersebut. Rusaknya geraham saya membuat memakan masakan tersebut serupa siksa. Mengunyahnya hingga sempurna adalah sesuatu yang hampir mustahil kini saya lakukan. Hingga jika terpaksa bertemu dengan masakan ini saya hanya mengunyahnya dengan sekedarnya untuk kemudian menelannya langsung. Bukan merupakan cara menikmati makanan yang benar tentunya.

Saya menyukai rendang, tapi bukan yang paling. Karena yang paling saya sukai adalah “Mi Ayam”. Makanan ini sejak SMP hingga saat ini merupakan makanan yang paling saya cari dan selalu ingin saya coba, membandingkan rasnya dari penjual yang satu dengan yang lainnya. Kenapa ia menjadi makanan favorit saya, rasanya lebih sebagai pembalasan dendam. Ketika SD dulu saya hampir tak pernah makan makanan ini sekalipun sangat menginginkannya. Jadilah sejak saat itu saya selalu membayangkan kelezatannya saja. Hingga baru ketika SMP saya berkesempatan menuntaskan dendam tersebut, yang akhirnya menjadi sebuah ritual bagi saya hingga saat ini.

Bicara tentang “Mi Ayam” ini dari yang di pinggir jalan hingga dalam mall telah saya coba, dan yang berbeda jauh memang hanya soal harganya. Entah kenapa, makanan ini ketika masuk mall harganya bisa menjadi 2 kali lipat dari harga semestinya. Padahal yang saya temui hampir sama saja, mi, ayamnya, sawi dan kuahnya, itu saja. Simple. Ternyata ada perbedaan kelas, nilai tambah lain ketika ia berada di pinggir jalan dan ketika berada dalam mall.

Tapi dari semuanya, “Mi Ayam” favorit saya adalah “Mi Ayam PodoMoro”. Mi Ayam ini tak berada di mall, ia hanya berada di sebuah kios pada sebuah pasar dekat rumah saya, Pasar Sukaramai. Kiosnya sederhana saja, hanya ada 2 meja panjang disana dengan kursi dan gerobak mi di depannya. Mi ayamnya yang memang sangat dahsyat, mi yang kenyal, ayam yang seluruhnya daging [beberapa penjual mencampurnya dengan tulang], kuah dengan rasa manis pedas yang luar biasa, “Mi Ayam” paling sempurna untuk selera saya.

Di luar soal rasa ada faktor lain yang membuat saya selalu tertarik untuk datang kesana. Pertama, di dalam kios tersebut pasangan suami-istri paruh baya yang menjual “Mi Ayam” ini selalu memutar Langgam Jawi. Musik dan lagu Jawa ini membuat saya merasakan suasana yang berbeda. Suasana yang membuat saya merasa nyaman meski saya tak tahu apa artinya Langgam Jawi tersebut. Hal yang di kemudian hari baru saya ketahui maksudnya, ternyata mereka memutar itu untuk mengobati kerinduan dan menciptakan suasana yang mirip dengan kampung halamannya di Sragen. Kedua, Pasangan suami-istri ini selalu menyambut seluruh tamunya dengan sambutan yang ramah sekelas pelayan di Mall. Tak peduli anak kecil, remaja hingga orang tua, keramahan dan kesopanan adalah harga mati yang harus disertakan dalam pelayanan. Keramahan yang tulus yang tak seperti di mall, keramahan yang penuh tekanan. Sementara sang suami sibuk membuatkan pesanan, maka sang istri mengajak ngobrol ramah sambil membantu suaminya.

Hal ini yang menjadi daya tarik saya kemudian untuk lagi dan lagi datang ke kios “Mi Ayam” ini. Kios “Mi Ayam” yang menjadi guru keramahan, ketulusan, kegigihan serta keharmonisan bagi saya.

***

Continue reading...

Senin, 06 Juli 2009

06/07/09

Senin ini memulai pagi dengan langsung pergi ke engku putri. Resiko jadi pengangguran, lama-lama di rumah terus bisa gila jadinya. Cuaca Batam masih tak bagus, pagi ini mendung masih menyelimuti. Matahari belum memperlihatkan tanda-tanda akan menampakkan diri, tapi hidup harus terus berlari.

Di seberang sana, pegawai PEMKO akan melaksanakan upacara bendera. Kegiatan ini benar-benar hanya menjadi seremonial belaka, rutinitas tanpa meninggalkan bekas.

Malam ini harusnya ada pertemuan lagi tapi saya tak ingin mengingatkan, kalau dia tak ingat biarlah saya tak datang. Rasanya sudah cukup nyaman seperti ini. Walau rasanya membosankan, tapi sepertinya ini karena hanya belum terbiasa. Tinggal mencoba untuk beradaptasi sedikit maka segalanya selesai.

---

Tinggal beberapa hari lagi Pilpres akan dilaksanakan, tadi malam Megawati dan Jusuf Kalla mengadakan konferensi pers di kantor muhammadiyah. Menuntut perbaikan DPT. Ada-ada saja tingkah elit di negeri ini. terlepas dari membela hak rakyat yang hilang -ini alasan di media. tentu saja di balik itu pasti ada maksud lainnya.

Tapi tak boleh prasangka katanya, karena sebagian dari prasangka itu dosa. ya, terhadap para elit kita tidak boleh berprasangka. Karena apapun yang mereka lakukan pasti telah melalui pertimbangan yang matang dan hasil rumusan terbaik dari musyawarah yang telah dilakukan. Rakyat hanya disini, diam, diarahkan dan disuruh mati di garis terdepan.

Sebuah bukti bahwa mayoritas tak bisa menang dari minoritas. terhadap elit (minoritas), rakyat (mayoritas) tak bisa menuntut haknya. Protes sedikit maka terhadap rakyat elit bebas mencaci maki, memarahi dan menyebutnya tak tahu diri. "Kalian tak tahu apa yang kami lakukan selama ini", bagaimana mungkin mau tahu kalau elit hanya bisa dekat rakyat jika saat "pemilihan" tiba. Setelah itu, mereka kembali ke menara gadingnya dan rakyat ditendang sejauh-jauhnya.

"Minggir, biar ini urusan kami", kata elit dengan lagaknya sok pahlawan.

Yah, Rakyat memang selalu sendiri.
Continue reading...

Selasa, 30 Juni 2009

Mengeluh [sebelum 30 tahun]

Setelah hari sebelumnya saya ga ada keluar rumah sama sekali, hari ini mulai habis tengah hari kegiatan saya padat sekali. Dimulai dengan rapat proyek masa depan [perlu tambahan dana, ada yang mau jadi investor. Siap presentasikan proposal bisnis]. Agenda hari itu tak terlalu banyak, hanya membahas angket kuesioner, tarif iklan dan status teman kami.

Hari sebelumnya dia sudah menanyakan alasan kenapa harus ada dia di tim kami, tak saya jawab, karena saya sudah malas [rasanya seperti melihat diri sendiri] dan tak tahu apa alasannya. Menunggu dia, cukup lama, sampai akhirnya dia tiba. Sedikit melanjutkan pembahasan sebelumnya sampai akhirnya menyinggung masalah itu. Menanyakan keinginan dia, masih terus ingin di tim ini atau pergi.

Dengan alasan normative [yang saya rasa tak jujur] dia memutuskan untuk mundur. Ok, fine. Tak masalah buat saya walau sebenarnya alasannya tak saya mengerti. Tapi kadang ada tindakan yang tak perlu sebuah alasan untuk melakukannya. Yang penting senang. Dan saya tak ingin mendebat lagi. Karena percuma saja, kalau bukan dari panggilan pribadi, hal ini akan selalu berulang lagi.

Kami meneruskan proyek itu bertiga saat ini.

Setelah rapat ini saya dapat undangan lagi dari teman SMK saya, Yuda. Ajakan ngobrol sambil ngopi di Mega Mall. Haah, saya tak suka dengan ajakan ini. Akhirnya saya pulang saja. Karena malamnya ada pertemuan lagi dengan seseorang. Jam 8, saya pergi menemui orang tersebut dan diskusi [sekitar 3 jam], sebenarnya lebih tepat disebut curhat ketimbang diskusi.

Keluhan saya banyak sekali.

***

Rasanya, saya jadi orang yang terlalu sering mengeluh akhir-akhir ini. Ketidakpuasan terhadap sesuatu membuat saya menjadi orang yang paling jago dalam hal mengkritik. Saya rasa salah. Tak seharusnya saya menunjukkan jari tangan saya ke orang lain, menyalahkannya. Harus lebih sering introspeksi diri. Hal yang paling sulit adalah ketika harus mengarahkan telunjuk saya ke diri sendiri ketika mengalami ketidakpuasan.

Masih terlalu muda. Lagi-lagi itu kalimat yang harus saya terima ketika saya tak puas dengan segalanya.

Tapi biarlah, saya ingin tetap seperti ini. Menjadi orang yang keras kepala dan tak puas dengan segalanya, memberontak dan melawan segal-gala yang non-humanis. Setidaknya sampai saya berumur 30 tahun.

Continue reading...

Kamis, 25 Juni 2009

Catatan Pagi Ini,,

Semua sedang berjalan menuju masa depannya masing-masing. Kerja keras, semangat tinggi, mentalitas mumpuni dan ruh spiritual harus tetap seimbang dalam upayanya untuk mewujudkan mimpi dan cita-cita. Kepala saya masih terasa berat saat ini. Entah karena hujan yang turun kemarin atau kenapa saya pun masih belum pasti. Kalau memikirkan sesuatu, rasanya tak banyak lagi yang saya pikirkan saat ini.

***

Pagi ini entah kenapa nama Joan Baez muncul di kepala saya. Siapa dia? entahlah, saya pun tak tahu. Bahkan baru sekarang ini saya mengetahui bahwa Joan Baez adalah nama wanita. Mencoba mencari keterangannya di Internet, ketemu di wikipedia. Masih dalam bahasa inggris, simpan dulu. Nanti saja saya baca.

Lagu yang saya tahu dari Joan Baez hanya Donna Donna ini [postingan sebelumnya]. Rasanya harus banyak membaca dan mempelajari tentang pribadi dan karya dari orang yang satu ini.

***

Setuju atau tidak, dunia saat ini adalah dunia membohongi atau dibohongi. Kalau pintar berarti membohongi kalau tidak ya berarti dibohongi. Beberapa waku lalu saya sempat mengunjungi blog teman saya yang isinya tentang ini. Bertanya tentang kejujuran. Hh, saya rasa saat ini tak ada kejujuran hakiki lagi. Semua orang bisa jujur ketika hal itu tidak menyangkut dirinya. Tapi ketika hal tersebut membahayakan dirinya maka yang kebohongan adalah salah satu mekanisme perlindungan diri yang sangat efektif.

Tentang kebohongan ini, ada dua jenis. Pertama berbohong [murni] dan terpaksa berbohong. Berbohong ini dilakukan oleh profesional sedang terpaksa berbohong ini dilakukakn oleh orang yang menuju profesional. Menuju profesional? Ya, sekali berbohong maka ia akan terus menerus tergoda untuk melakukan kebohongan lainnya.

Dan saya saat ini. Tentu saja saya akui, hidup saya penuh kebohongan. Banyak sekali kebohongan yang saya jalani dalam kehidupan hingga saat ini sampai-sampai rasanya tak nyaman ketika harus tak berbohong. Sikap tegar, senyum, tertawa, senang, bahagia, kritis, sedih, dan banyak lagi yang lainnya lebih sering merupakan kepura-puraan ketimbang isi nurani yang sebenarnya.

Berhadapan antara satu orang dengan orang lainnya saya kerap berganti topeng. Saya masih belum bisa menentukan Who Am I..?

***

Akhir-akhir ini lagi keranjingan nonton, transformers, King dan Ice Age 3 rasanya film wajib tonton berikutnya.

Rasanya saya mulai percaya hikmah sedekah. Ganjarannya memang berlipat ganda dari apa yang kita berikan. Hadiah jam tangan baru dari Ayah saya rasanya cukup membuktikan itu. Tinggal mencari tukang jam untuk mengecilkan ukuran pergelangannya. Entah perasaaan saya saja, tapi rasanya saya tambah kurus.

***

Continue reading...

Kamis, 18 Juni 2009

RESPECT SAYA UNTUK MEREKA,,

Tadi malam adalah sms dia yang pertama kali setelah sempat tak pernah sms-an lagi. Awalnya bingung mau ngapain lagi ngirim sms. Setelah saya buka smsnya, kebingungan saya makin bertambah. Isinya menyepakati tentang pendapat filsuf yunani yang isinya adalah “keberuntungan terbesar adalah tak pernah dilahirkan, yang kedua mati muda kemudian yang tersial adalah mati tua.” Jelas bingung, karena awalnya ia tak sepakat dengan filosofi itu.

Yah, Semoga saja dia tak melakukan hal bodoh.

---

Hari ini meski tak semarak seperti ketika pemilu legislatif lalu tapi kotaku mulai berwarna kembali. Atribut kampanye para capres dan cawapres mulai menghiasi jalan-jalan, baik di kota maupun permukiman penduduk. Mulai dari bendera hingga spanduk [kadang heran, memangnya media kampanye yang bisa dipajang Cuma spanduk dan bendera saja?]. Stiker-stiker yang mengotori halte dan fasilitas umum lainnya akan segera menyusul tampaknya.

Kesibukan saya dalam menghadapi pilpres ini pun tak sepadat ketika pemilu legislatif lalu. Akibat saya yang menjauh tampaknya, hingga akhirnya tak tahu lagi perkembangan dunia gerakan. Atau mungkin karena bentrok dengan jadwal UAS sehingga mau tak mau prestasi akademis yang harus diutamakan.

Respect saya pada mereka, orang-orang yang terus komitmen untuk berjuang. Saya respect kepada mereka sebagai person bukan aktivis gerakan A atau gerakan B, kader partai A atau partai B. Saya lebih melihat mereka sebagai orang-orang yang gelisah akan keadaan negeri ini, ikhlas tanpa kepentingan apapun.

Pagi tadi, ketika membuka email saya melihat ada pesan dari facebook. Ada komen di dinding saya. Isinya kurang lebih tentang jangan menulis yang memecah belah barisan dan sebangsanya. Akibat postingan saya yang sebelumnya tampaknya. Saya tak ambil pusing dengan itu. Berurusan dengan KDR memang seperti ini tampaknya, dan cukup militan tampaknya dia sehingga rasanya sulit menerima sesuatu dari yang bukan kelompoknya. Aneh, saya tak habis pikir, kenapa harus terkotak-kotakkan seperti ini.

---

Besok jumat kemudian sabtu dan magang pun selesai. Tadi ketemu dengan teman SMK dulu. Lupa namanya, jadi saya hanya panggil dia dengan “boy” dan “cuy” saja selama ngobrol. Untung dia tak sadar akan itu. Dapat sms lagi dari bang pepeng, katanya ada undangan dari Bapelda Batam, mengajak silaturahim sepertinya. Saya bilang terima saja, tak ada salahnya. Sekarang tinggal menunggu jadwal pertemuannya. Biar mereka yang atur.

***

Continue reading...

Rabu, 17 Juni 2009

PARADOKS KELULUSAN,,

Rasanya malas sekali beraktivitas hari ini. Penyakit lama selalu kambuh kalau sudah begini, tapi tinggal 2 minggu lagi dan setelah itu semuanya akan selesai. Semoga diberi kekuatan untuk menjalani sisa 2 minggu ini. Haah, rasanya belakangan ini saya jadi sering mengeluh, menghadapi berbagai kenyataan yang tak sesuai dengan harapan membuat saya jatuh kecewa. Tak ada yang ideal di dunia memang.

---

Kemarin baru saja pengumuman kelulusan. Aksi corat-coret dan konvoi tetap menjadi ritual yang tak tertinggalkan. Saya tak menyalahkan, toh dulu ketika lulus-lulusan saya juga melakukannya [walau akhirnya menyesal karena cat yang menempel di rambut tak bisa sepenuhnya dibersihkan hingga harus botak lagi]. Melihat mereka yang lulus saya menjadi berpikir, mereka yang lulus ini akan kemana nantinya. Hanya menambah angka-angka pengangguran dan menambah beban negara atau mampu menjadi sebuah agen peradaban yang mampu berkontribusi bagi negeri ini.

Sebagian dari mereka akan berebut melamar kerja, sebagian lagi mengisi ketidaksiapannya untuk turun ke dunia kerja dengan kuliah di kampus yang tersedia walau jurusannya tak dikenali sebelumnya. “Yang penting kuliah lah, dapet gelar dan tak terlihat sebagai pengangguran” ini pemikiran bodoh saya ketika pertama kali memutuskan untuk melanjutkan kuliah.

Kurang lebih dua bulan lagi, saya akan sama seperti mereka. Wisuda. Rasanya ini tujuan akhir kuliah. Dan ketika mendekati garis finish, saya semakin kebingungan dan cemas. “Mau kemana saya setelah ini?” bergabung lagi dengan tempat magang yang sekarang, tentu tak mungkin, saya sudah tak merasa cocok disana. Terlalu kompromistis, tak sesuai dengan saya. Sampai hari ini saya masih mengalami ketidakjelasan masa depan. Menjadi orang yang mencoba untuk terus idealis atau berubah jadi pragmatis dan mengalah dengan nilai-nilai di sekitar.
Tadi malam saya melakukan pertemuan dengan senior saya waktu di kampus. Banyak hal yang kami bicarakan. Tapi intinya adalah keinginannya untuk membentuk sebuah wadah pemuda untuk menanggapi isu-isu yang ada di batam khususnya masalah lingkungan. Saya pikir tak ada salahnya saya menerima tawaran ini.

---

Untuk para anggota dewan Batam yang baru terpilih sekarang, kurang lebih dua bulan jugga dari sekarang akan segera dilantik. Acara seremonial [lagi-lagi] yang memakan dana luar biasa besar sudah disiapkan. Fasilitas seperti baju dan lencana pun telah dipesan. Wajah-wajah baru yang siap merealisasikan janji-janjinya ketika kampanye kemarin.

Tapi lagi-lagi saya hanya melihat mereka sebagai politisi kelas kolam. Sempit dan tak menantang sama sekali. Walaupun didominasi oleh wajah-wajah baru dan muda, saya pesimis akan adanya perubahan. Sejauh yang saya lihat, hampir sama saja, sudah bersiap-siap untuk bermain proyek juga.

Semoga saya yang salah dan terlalu cepat mengambil keputusan.

***
Continue reading...

Senin, 15 Juni 2009

Kejelasan Masa Depan..?

Sudah senin lagi, sepertinya makin cepat saja hari berlalu. Sabtu lalu saya baru saja menyelesaikan tugas saya sebagai PU Paradigma. Mubes yang dihadiri sekitar 15 orang kader baru ini mengantarkan saya menuju kesudahan aktivitas saya di organisasi mahasiswa. Ya, rasanya memang harus begitu. Dengan semakin dekatnya waktu kelulusan saatnya mengakhiri segala urusan kemahasiswaan.

Deadline pengurusan adminstrasi kelulusan yang diundur membuat saya sedikit lega. Walau pada akhirnya hanya membuktikan begitu seringnya saya mencari alasan untuk menunda pekerjaan. Aku rasa ini harus segera diperbaiki.
Pagi ini ada beberapa rencana kegiatan yang harus saya tunaikan. Pertama ke bank untuk transfer biaya pembelian buku, lalu melanjutkan magang setelah itu ke kampus untuk bicara tentang nP.

Berbicara tentang perantian kepemimpinan, saya punya harapan besar pada mereka penerus Paradigma. Setidaknya ketua terpilihnya saat ini adalah orang yang hanya fokus di Paradigma (tidak ada afiliasi dengan pihak lain), sehingga kesalahan saya sebagai ketua sebelumnya [semoga] tidak terjadi. Saya ingin melihat ide-ide revolusioner dan orisinil dari para pengurus yang baru yang tak hanya menjadi pembicaraan di tingkatan kampus tapi tingkatan Kota. Terlalu muluk, hhmm, saya rasa tidak.

Tinggal 2 minggu lagi pelaksanaan magang [sebenarnya pengen segera udahan] setelah itu saya akan benar-benar jadi pengangguran. Mau melamar kerja saya tak minat, ada alternatif kemarin katanya suruh ngumpulin CV biar nanti kalau ada perusahaan minta kampus yang masukin CV kita langsung. Tapi tetap saja saya tak tertarik. Yang lainnya lagi jadi PNS atau masuk Polisi. Tapi saya pun tak senang dengan itu. Bagi saya merka yang menjadi itu adalah mereka dengan semangat juang yang rendah. Saya sudah paham benar alur pemikirannya, tunjangan hari tua, jaminan kehidupan, halah, bagi saya mereka hanyalah kumpulan manusia tanpa impian yang lebih didominsi oleh rasa malas.

Mengharapkan gaji bulanan yang jelas, side job yang menjurus [udah pasti malah] ke korupsi, kolusi dan nepotisme serta kerjaan yang ringan. Padahal kalau dipikir dengan kejelasan penghasilan yang diterima sebenarnya juga berarti ketidakjelasan masa depan. Yah, itung-itungan masa depan jadi bisa dengan mudah dilakukan karena gaji bulanan yang sudah jelas diterima.

Yah sudahlah, setiap orang memang punya pilihan masing-masing.

Sekarang masih bulan Juni, rasanya Austus masih lama sekali. Berharap OSPEK segera tiba. Mau menyalurkan segala kepenatan.

***
Continue reading...

Jumat, 12 Juni 2009

KEINDONESIAAN KITA,,

Entah kenapa, malam ini saya kepikiran tentang pengaruh anak. Pengaruh dari buku yang saya baca tampaknya. Kecintaan terhadap anak mampu membutakan orang tua akan segalanya. Ada yang rela mempermalukan dirinya asal anaknya selamat, membuka aibnya agar aib sang anak tertutupi dan barisan yang kecewa paling pertama saat anak-anaknya mengalami kegagalan. Sebuah ambisi pribadi yang menjurus pada eksploitir anak menurut saya.

Kepada anak saya nanti, saya ingin mencintainya tanpa emosional sama sekali.

---

Film KCB diputar perdana kemarin. Imam jadi orang pertama yang begitu menggebu mengajak saya untuk menonton film tersebut. Ada amin, juang, sugi, andres juga ikut bujuknya, tapi setelah saya konfirmasi pada orang yang bersangkutan mereka jawab belum tahu mau ikut atau enggak. Heh, penipu juga ni orang.

Saya memang sama sekali tak berminat menonton film ini. Dari melihat trailernya saja saya tak suka. “Film Indonesia pertama yang syuting di Mesir”. Terus kenapa memangnya? Adakah itu sebuah prestasi? Sama sekali saya tak melihat itu. Saya tak senang dengan itu. Kurangkah tempat indah dan menawan di negeri ini. Ah, itu kan biar sama dengan latar novel best sellernya. Kalau seperti ini saya akan salahkan penulisnya. Tak bisakah ia menulis novel picisan best seller dengan berlatar indonesia saja.

Lagi yang lain yang tak saya senangi adalah efek sehabis nonton film ini. Ada orang yang sangat benci dan rasanya menganggap salah orang yang bergaya kebarat-baratan. Menggunakan pakaian dan bergaul ala kebarat-baratan tak sesuai dengan tradisi ketimuran katanya. Tapi efek menonton film ini saya pikir akan sama dengan efek film AAC sebelumnya. Tiba-tiba saja banyak orang menggunakan bahasa arab dalam pergaulan, cadar, celak dan semua yang berbau kearab-araban. Saya rasa itu bukan sebuah kesadaran akan berislam, tapi sebuah kesadaran tentang adanya sebuah dandanan baru yang menarik.

Kalau kebarat-baratan adalah sebuah kesalahan, maka saya pikir kearab-araban juga sama saja. Saya jadi mempertanyakan, di tengah banyaknya budaya di Indonesia rasanya tak ada sama sekali yang dibanggakan. Saya jadi mempertanyakan keindonesiaan kita.

**Selain kebarat-baratan dan kearab-araban satu lagi yang tak saya senangi adalah kejepang-jepangan [ada beberapa yang bergaya seperti ini]

---

Kemarin saya berpapasan dengan Windri MS di kampus. Dia menyapa saya dan bertanya tentang masalah sidang kemarin. Saya jawab sudah selesai dan berlalu begitu saja. Malamnya saya beberapa kali sms-an dengannya. Membawa saya teringat pada kejadian beberapa semester yang lalu. Saya lelah sekali malam itu.

***

Continue reading...

Kamis, 11 Juni 2009

PEMKORUP,,

Pukul 3:39 selesai mencetak buku TA 4 rangkap. Untung persediaan kertas yang cuma 1 rim cukup, jadi besok tinggal jilid. Setelah itu saya harus masih menemui beberapa orang untuk minta tanda tangan sebagai bukti bahwa saya bebas masalah [sepertinya saya tak pernah buat masalah]. Tinggal laboratorium, pembimbing TA, wali kelas, perpustakaan dan kaprodi, tinggal(?) itu artinya saya baru bebas masalah keuangan saja, Hmm, target besok wali kelas sama laboratorium harus sudah selesai.

Kemarin saya baru saja dapat sms dari pepenk lagi. Mulanya dia tanya apa kegiatan saya setelah jadi free-man sekarang ini, akhirnya dia ngajak ketemuan lagi buat bahas pemikiran-pemikiran yang masih belum bisa terealisasi semasa di K-PAL. Saya menyetujuinya, saya bilang hari minggu ini atau hari apapun mulai minggu depan. Sisa hari ke depan ini saya mau mempersiapkan LPj untuk Mubes LPM, untuk masalah jalan-jalan saya serahkan ke Wa, Farika, Halimah(?), Ridho dan Taufik (S1) aja. Pulau abang aja gimana(?) Diving disana pasti seru.

Rasanya saya makin muak saja dengan semua kebobrokan ini, tapi di sisi lain saya juga sering bingung, apa yang harus dan bisa saya lakukan. Tak mungkin orang-orang di atas itu tidak tahu bagaimana pola-pola kerja staff di bawahnya, tapi hal-hal seperti ini tetap saja terjadi. Kemarin pagi saya adalah satu-satunya anak magang yang ikut briefing pagi itu [karena cuma saya sendiri disana] yang lain pergi ke dinas semua untuk mengambil Dokumen lelang. Sugi ke Dinas PU dan Amin serta Juang ke Dinas Tata Kota.

Sekitar pukul ½ 11, Amin dan Juang tiba dan segera saja mereka cerita kejadian disana. Untuk biaya fotokopi dokumen lelang mereka dimintai Rp. 150.000 masing-masing. Jadi totalnya Rp. 300.000. SHIT. Fotokopi dimana si TUMBUR (ini orang pegawai dinas tata kota, kenalin, salah satu oknum PNS korup yang saya kenal, tapi saya masih belum punya bukti) itu, Cuma ambil dokumen yang kurang lebih 100 halaman saja sampai seharga segitu. Mendengar cerita itu jelas saja saya bingung, kaget bercampur marah, kami membahas itu seru sampai akhirnya Hadi keluar bertanya ada apa. Hhh, dia terlalu kompromistis rupanya, dia malah memilih lebih baik damai. Sudah saya duga saya tak cocok disini, terlalu pragmatis. Berbisnis dengan pemerintah memang seperti ini agaknya, tak profesional, birokrasi yang terlalu rumit dan berbelit. Tak bisakah semuanya selesai dengan jabat tangan saja, Bukankah birokrasi yang rumit adalah salah satu peluang untuk melakukan korupsi.

Saya rasa ini sudah keterlaluan, harus ada yang berani membongkar ini. Tapi permasalahannya pungli ini ibarat “babi ngepet”, ramai dibicarakan tapi susah untuk dibuktikan. Mental pengusahanya juga korup jadi sama saja. Ah, kalian masih terlalu muda. Paling itu yang selalu dijadikan alasan ketika hal-hal seperti ini kami anggap masalah besar.

Susah punya pemimpin yang hanya memikirkan pencitraan diri dan takut mengambil kebijakan non-populis. Yang dipikirkan hanya bagaimana bisa meraih citra diri yang baik sebagai bekal untuk mempertahankan jabatan atau naik ke jabatan yang lebih tinggi lagi. Sehingga soal-soal seperti ini selalu dianggap tak penting karena tak ada pengaruhnya dengan pencitraan diri.

AN****!!!

Continue reading...