Tampilkan postingan dengan label curhatku... Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label curhatku... Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 Januari 2010

Jadi Tertawalah ! ! !


Memulai menulis di blog kembali artinya saya harus mulai dari awal lagi. Yah tidak terlalu awal juga, mungkin cukup me-refresh sedikit otak saya. Untuk memulai kegiatan menulis hal yang saya yakini sampai saat ini adalah "membaca". Heran rasanya kalau mendengar ada orang yang suka menulis tapi tak suka membaca, betapa sombongnya orang seperti ini menurut saya. Menurut saya loh, kalau menurut sampeyan wajar ya silakan.

Oya, memulai tulisan ini sebelumnya saya ingin memberikan tebak-tebakan untuk mereka yang sudi membaca. Jawabannya boleh tulis di kolom komentara atau shoutmix yang ada di sebelah kanan. "Binatang apa yang namanya cuman 1 huruf selain I KAN?" Jawab dan mulailah dengan tertawa, karena tawa akan mengubah keseluruhan hari anda. Saya JAMIN!!

Baiklah jadi tulisan ini tentang apa sebenarnya? Hanya ugkapan hati sebenarnya. Bagi yang tak berkenan boleh segera berhenti membaca. Hehehee,,

Tapi kalau memang anda ingin meneruskan membaca tulisan ini maka saya akan berikan anda manfaat dari membaca tulisan ini, pertama membaca dan kedua tertawa. 2 hal ini adalah yang terpenting untuk saya saat ini. dengan 2 kegiatan ini saya memperoleh kebahagiaan saya. Efeknya jangan tanya lagi, keseluruhan hidup anda akan berubah menjadi sepenuhnya kegembiraan sekalipun anda seorang pengangguran. Tapi bukan kemudian diam tanpa berusaha, pasrah jadi pengangguran. Tetap saja harus berusaha, mencari peluang menjadi UANG.

Jadi segera temukan hal-hal yang membuat anda gembira, jangan biarkan kesedihan masuk merusak hari indah anda.
Continue reading...

Selasa, 08 September 2009

PILKARET DI KAMPUNG SAYA (Bagian -1)

“Ya Alloh Lunasilah hutang-hutangku, serta jauhkanlah aku dari kemalasan serta kemiskinan”
Amiiin.

Sengaja saya buka dengan doa seperti ini karena akhir-akhir ini saya malas sekali menulis. Alhasil jadilah blog ini seperti terbengkalai. Ada banyak hal yang ingin saya tuliskan sebenarnya, kegelisahan, cemas, bahagia, sedih dan lainnya hanya saja ketika ia diniatkan agar menjadi tulisan maka kemalasan dengan derasnya melanda.

Semenjak lulus kuliah kemarin praktis seharian saya di rumah terus. Harusnya menulis bisa menjadi lebih produktif karena tak ada kerja lainnya, tapi ternyata saya salah. Diam membuat saya jadi tak peka dengan keadaan sekeliling. Berita saya ketinggalan, informasi kehilangan, hasilnya saya makin terpuruk dalam kemalasan.

Ternyata benar adanya, emotion depend on motion. Ketika diam maka emosi juga cenderung stabil tak ada yang membuatnya menggelegak sedemikian rupa. Tapi akhirnya saya tahu, cara untuk mengatsinya mudah saja. Saya harus terus bergerak.

Banyak hal yang terjadi belakangan ini, mulai dari konflik Indonesia – Malaysia, Pelantikan anggota dewan yang baru, tawaran pekerjaan, Target menamatkan novel baru, proses pencarian novel yang akan diterbitkan hingga Ibu saya yang menolak ditawari jadi RT.

Saya tak ingin membahas semuanya. Konflik Indonesia – Malaysia, saya malas menanggapi masalah adu domba seperti ini. Pelantikan anggota dewan yang baru, harapan saya semoga mereka bisa menjaga dirinya sendiri dari godaan di dewan selama 5 tahun ke depan. Tawaran pekerjaan, saya masih belum berminat untuk mencari kerja [di Lobam, terancam tidak lebaran nanti]. Novel “Negeri 5 Menara”, ini novel wajib baca sepertinya. Tinggal tunggu dia jadi best seller dan semua orang rebutan buat beli. Selanjutnya dalam 2 minggu ini sudah ada 2 orang yang mengirimkan naskahnya untuk diterbitkan di newParadigma, tinggal proses seleksi.

Nah, ini yang terakhir dan terpenting. Pemilihan RT di kampung saya.

Saya ingin membahas tentang ini. Rasanya lebih menarik. Tidak terlalu rumit, jadi tidak terlalu memaksakan otak saya bekerja terlalu keras. Maklum punya saya cukup pas-pasan, takutnya bakal overheat kalau terlalu dipaksakan.

Tapi sayang, rasanya saya sudah terlalu mengantuk. Cerita tentang pemilihan RT di kampung saya terpaksa harus ditunda di postingan selanjutnya.

***

Continue reading...

Senin, 10 Agustus 2009

3 Tahun Belakangan Ini,,

Malam tadi sambil menunggu pesan singkat dari seseorang, saya mendapatkan sebuah pesan dari teman saya. Teman satu ini banyak menginspirasi saya dalam kehidupan kampus saya. Secara fisik tak ada yang terlalu istimewa darinya hanya saja kepercayaan diri serta tekadnya menjadikan tampilan fisiknya itu tak lagi menjadi penting. Ya, saya menghormatinya dengan sangat.

Isi pesan singkat yang dikirimkan pada saya dan teman yang lain tentunya (salah satu cara untuk menghabiskan bonus sms) adalah :

“Selamet ya bro,
12 hr lg uda gak jd mhs da jd amd.
Kalo dpt info gawe atw usha jarngan
jangn puts”


Langsung ada yang menohok seketika saat saya membaca pesan ini. 3 tahun rasanya cepat berlalu, baru kemarin rasanya mengalami OSPEK dan sekarang hanya tinggal 12 hari lagi saya memiliki status sebagai mahasiswa. Kehidupan kampus akan segera berakhir dan kehidupan sesunguhnya akan segera dimulai, sebuah Universitas Kehidupan yang sangat luas. 3 tahun di kampus saat ini adalah laboratorium, tempat uji coba untuk masuk ke universitas kehidupan. Semuanya akan diuji, akan menjadi apakah setelah tamat kuliah, menjadi mutiara atau sampah.

Nostalgia semasa kuliah rasanya kembali berputar dalam ingatan saya saat itu. Ya, kampus itu telah memberikan saya berjuta warna baru bagi kehidupan saya. Di kampus itu saya bertransformasi menjadi orang yang berbeda dari saat saya sekolah dulu. Dan proses transformasi ini saya anggap sebagai sebuah keberhasilan dari kenaikan mutu hidup saya sebagai seorang manusia. Karena kalau selama 3 tahun ini tak ada perubahan berarti dalam diri saya maka pastilah kegagalan akan mewarnai kehidupan saya selanjutnya.

Banyak hal terjadi di kampus itu, suka, duka, marah, benci, cinta, orasi, retorika, organisasi, teman, rival, sahabat, keluarga dan banyak lagi lainnya.

Terlalu banyak yang ditanamkan sehingga tak ingin rasanya kehilangan, karena akan terlalu banyak yang harus hilang kalau itu sampai terjadi. Kalau pun harus berpisah saya tak ingin kehilangan. Biarlah rasa itu tetap seperti ini.

Saya mencintai semuanya..

***

Continue reading...

Kamis, 23 Juli 2009

Rasa di Pagi Hari,,

Ini sekedar tulisan pembuka di hari ini. Tak jelas juga sebenarnya mau nulis apa, hanya saja rasanya ada sesuatu yang mendorong untuk menulis pagi ini. Jadi kalau mengharapkan sesuatu yang bermanfaat dari tulisan ini maka saya sarankan untuk berhenti sekarang juga, daripada anda menyesal nantinya.

Cuaca di Batam masih seperti biasa, tak menentu. kemarin hujan turun deras sekali pagi-pagi. Tapi hari ini, matahari sudah bersinar ceria. mudah-mudahan seperti ini terus hingga nanti sore. Dari kemarin ketemu dengan temen-temen panitia perpisahan angkatan 2006 di facebook, pertanyaannya selalu sama. "Kapan ke kampus?, bayar uang perpisahan." haha, saya janjikan saja hari ini. Hormat saya untuk teman-teman yang dengan sangat serius menggarap acara perpisahan ini.

3 tahun bersama rasanya tak terasa, dan sekarang semua harus memulai kehidupannya masing-masing. membangun catatan sejarahnya. "Akhirnya kita jalan masing-masing" kata teman saya. heh, kalo dipikir benar juga, hampir selalu bersama baik dalam organisasi maupun menghadapi rintangan akademik.

Ya, perpisahan itu akan segera tiba. semoga bisa sukses semuanya..
Continue reading...

Rabu, 15 Juli 2009

Ini (bukan) Tulisan Cinta,,


Sampai hari ini, perlahan saya mulai mengenali diri. Pelan-pelan saya makin jelas tentang bagaimana saya selama ini. Rasanya ingin tertawa saja kalau ternyata apa yang saya lakukan selama ini bukan karena apa yang banyak orang lain bayangkan tentang saya. Melakukan penipuan, entahlah tapi rasanya bukan. Saat itu saya hanya belum mengenali kualitas diri saja.

Kalau sampai hari ini saya boleh mengklaim sendiri prestasi bagi diri ini, maka saya yang belum pernah berpacaran hingga saat ini mungkin bisa dijadikan salah satu rekor terbaik saya, salah satu prestasi saya. Bukan karena tak pernah jatuh cinta, tapi karena terlalu seringnya saya jatuh cinta.

Mulai dari SD saya sudah mencintai teman sekelas saya. Dan ini terus berlanjut hingga SMP, kemudian saat SMK dan hingga kini dari semester pertama hingga terakhir kuliah. Terhadap teman-teman wanita yang saya kenal selama bersekolah sulit bagi saya untuk tidak jatuh cinta. Terlalu lemah rasanya untuk tidak jatuh pada jebakan yang begitu sering hanya terlihat indah di luar namun banyak hal mematikan di dalamnya.

Tapi, mudahnya saya jatuh cinta tak berbanding lurus dengan mudahnya saya mengungkapkan cinta. Persoalan mengungkapkan cinta ini adalah persoalan yang sangat rumit dan sulit bagi saya. Ia serupa dengan pertaruhan harga diri. Dan saya bukan orang yang cukup kuat untuk malu menanggung luka pada harga diri ini. Lebih baik mati saja rasanya daripada harus menanggung malu seperti itu. Tapi persoalan bunuh diri ini pun bukan persoalan gampangan. Saya masih kerap belum siap untuk mati dengan cara seperti itu.

Jadilah selama ini, ekspresi cinta saya hanya saya lakukan di alam imajinasi. Ia lebih aman, lebih murah, dan lebih mudah. Saya bisa bebas kapan saya ingin mencintai, kapan saya ingin berhenti dan kapan mencintai lagi. Lebih aman pula karena saya bisa mencintai dua orang atau lebih tanpa harus mendapatkan siraman di muka seperti yang kerap diperlihatkan reality show saat ini. Lebih murah tentu saja karena mencintai dalam imajinasi tak perlu repot-repot menghabiskan ongkos untuk sekedar nonton, jalan atau makan.

rekor yang saya bukukan bukan karena kepatuhan saya terhadap nilai-nilai dan ajaran agama, saya bisa saja sering ngomong panjang lebar tentang larangan pacaran di depan orang, tapi kualitas diri saya bukan pada tahapan itu. Bukan karena kepatuhan itu. Lebih pada rasa malu saya, malu pada diri sendiri itu.

Dan tentu saja saya tak ingin membatasi diri untuk tidak jatuh cinta, karena cinta itu perlu bagi saya untuk menciptakan kedamaian dalam diri ini, menumbuhkan semangat kembali setiap hari. Maka untuk itu rasanya saya perlu lebih luas lagi dalam hal jatuh cinta ini, agar segala apa yang saya lakukan bisa selalu menggelora dan selalu luar biasa. Mungkin pada anak jalanan yang sibuk berjualan koran itu, ibu-ibu perkasa yang berjualan makanan menghidupi anak-anaknya atau siapapun orang yang saya temui di jalan.

***

Continue reading...

Senin, 06 Juli 2009

06/07/09

Senin ini memulai pagi dengan langsung pergi ke engku putri. Resiko jadi pengangguran, lama-lama di rumah terus bisa gila jadinya. Cuaca Batam masih tak bagus, pagi ini mendung masih menyelimuti. Matahari belum memperlihatkan tanda-tanda akan menampakkan diri, tapi hidup harus terus berlari.

Di seberang sana, pegawai PEMKO akan melaksanakan upacara bendera. Kegiatan ini benar-benar hanya menjadi seremonial belaka, rutinitas tanpa meninggalkan bekas.

Malam ini harusnya ada pertemuan lagi tapi saya tak ingin mengingatkan, kalau dia tak ingat biarlah saya tak datang. Rasanya sudah cukup nyaman seperti ini. Walau rasanya membosankan, tapi sepertinya ini karena hanya belum terbiasa. Tinggal mencoba untuk beradaptasi sedikit maka segalanya selesai.

---

Tinggal beberapa hari lagi Pilpres akan dilaksanakan, tadi malam Megawati dan Jusuf Kalla mengadakan konferensi pers di kantor muhammadiyah. Menuntut perbaikan DPT. Ada-ada saja tingkah elit di negeri ini. terlepas dari membela hak rakyat yang hilang -ini alasan di media. tentu saja di balik itu pasti ada maksud lainnya.

Tapi tak boleh prasangka katanya, karena sebagian dari prasangka itu dosa. ya, terhadap para elit kita tidak boleh berprasangka. Karena apapun yang mereka lakukan pasti telah melalui pertimbangan yang matang dan hasil rumusan terbaik dari musyawarah yang telah dilakukan. Rakyat hanya disini, diam, diarahkan dan disuruh mati di garis terdepan.

Sebuah bukti bahwa mayoritas tak bisa menang dari minoritas. terhadap elit (minoritas), rakyat (mayoritas) tak bisa menuntut haknya. Protes sedikit maka terhadap rakyat elit bebas mencaci maki, memarahi dan menyebutnya tak tahu diri. "Kalian tak tahu apa yang kami lakukan selama ini", bagaimana mungkin mau tahu kalau elit hanya bisa dekat rakyat jika saat "pemilihan" tiba. Setelah itu, mereka kembali ke menara gadingnya dan rakyat ditendang sejauh-jauhnya.

"Minggir, biar ini urusan kami", kata elit dengan lagaknya sok pahlawan.

Yah, Rakyat memang selalu sendiri.
Continue reading...

Selasa, 30 Juni 2009

Mengeluh [sebelum 30 tahun]

Setelah hari sebelumnya saya ga ada keluar rumah sama sekali, hari ini mulai habis tengah hari kegiatan saya padat sekali. Dimulai dengan rapat proyek masa depan [perlu tambahan dana, ada yang mau jadi investor. Siap presentasikan proposal bisnis]. Agenda hari itu tak terlalu banyak, hanya membahas angket kuesioner, tarif iklan dan status teman kami.

Hari sebelumnya dia sudah menanyakan alasan kenapa harus ada dia di tim kami, tak saya jawab, karena saya sudah malas [rasanya seperti melihat diri sendiri] dan tak tahu apa alasannya. Menunggu dia, cukup lama, sampai akhirnya dia tiba. Sedikit melanjutkan pembahasan sebelumnya sampai akhirnya menyinggung masalah itu. Menanyakan keinginan dia, masih terus ingin di tim ini atau pergi.

Dengan alasan normative [yang saya rasa tak jujur] dia memutuskan untuk mundur. Ok, fine. Tak masalah buat saya walau sebenarnya alasannya tak saya mengerti. Tapi kadang ada tindakan yang tak perlu sebuah alasan untuk melakukannya. Yang penting senang. Dan saya tak ingin mendebat lagi. Karena percuma saja, kalau bukan dari panggilan pribadi, hal ini akan selalu berulang lagi.

Kami meneruskan proyek itu bertiga saat ini.

Setelah rapat ini saya dapat undangan lagi dari teman SMK saya, Yuda. Ajakan ngobrol sambil ngopi di Mega Mall. Haah, saya tak suka dengan ajakan ini. Akhirnya saya pulang saja. Karena malamnya ada pertemuan lagi dengan seseorang. Jam 8, saya pergi menemui orang tersebut dan diskusi [sekitar 3 jam], sebenarnya lebih tepat disebut curhat ketimbang diskusi.

Keluhan saya banyak sekali.

***

Rasanya, saya jadi orang yang terlalu sering mengeluh akhir-akhir ini. Ketidakpuasan terhadap sesuatu membuat saya menjadi orang yang paling jago dalam hal mengkritik. Saya rasa salah. Tak seharusnya saya menunjukkan jari tangan saya ke orang lain, menyalahkannya. Harus lebih sering introspeksi diri. Hal yang paling sulit adalah ketika harus mengarahkan telunjuk saya ke diri sendiri ketika mengalami ketidakpuasan.

Masih terlalu muda. Lagi-lagi itu kalimat yang harus saya terima ketika saya tak puas dengan segalanya.

Tapi biarlah, saya ingin tetap seperti ini. Menjadi orang yang keras kepala dan tak puas dengan segalanya, memberontak dan melawan segal-gala yang non-humanis. Setidaknya sampai saya berumur 30 tahun.

Continue reading...

Senin, 15 Juni 2009

Kejelasan Masa Depan..?

Sudah senin lagi, sepertinya makin cepat saja hari berlalu. Sabtu lalu saya baru saja menyelesaikan tugas saya sebagai PU Paradigma. Mubes yang dihadiri sekitar 15 orang kader baru ini mengantarkan saya menuju kesudahan aktivitas saya di organisasi mahasiswa. Ya, rasanya memang harus begitu. Dengan semakin dekatnya waktu kelulusan saatnya mengakhiri segala urusan kemahasiswaan.

Deadline pengurusan adminstrasi kelulusan yang diundur membuat saya sedikit lega. Walau pada akhirnya hanya membuktikan begitu seringnya saya mencari alasan untuk menunda pekerjaan. Aku rasa ini harus segera diperbaiki.
Pagi ini ada beberapa rencana kegiatan yang harus saya tunaikan. Pertama ke bank untuk transfer biaya pembelian buku, lalu melanjutkan magang setelah itu ke kampus untuk bicara tentang nP.

Berbicara tentang perantian kepemimpinan, saya punya harapan besar pada mereka penerus Paradigma. Setidaknya ketua terpilihnya saat ini adalah orang yang hanya fokus di Paradigma (tidak ada afiliasi dengan pihak lain), sehingga kesalahan saya sebagai ketua sebelumnya [semoga] tidak terjadi. Saya ingin melihat ide-ide revolusioner dan orisinil dari para pengurus yang baru yang tak hanya menjadi pembicaraan di tingkatan kampus tapi tingkatan Kota. Terlalu muluk, hhmm, saya rasa tidak.

Tinggal 2 minggu lagi pelaksanaan magang [sebenarnya pengen segera udahan] setelah itu saya akan benar-benar jadi pengangguran. Mau melamar kerja saya tak minat, ada alternatif kemarin katanya suruh ngumpulin CV biar nanti kalau ada perusahaan minta kampus yang masukin CV kita langsung. Tapi tetap saja saya tak tertarik. Yang lainnya lagi jadi PNS atau masuk Polisi. Tapi saya pun tak senang dengan itu. Bagi saya merka yang menjadi itu adalah mereka dengan semangat juang yang rendah. Saya sudah paham benar alur pemikirannya, tunjangan hari tua, jaminan kehidupan, halah, bagi saya mereka hanyalah kumpulan manusia tanpa impian yang lebih didominsi oleh rasa malas.

Mengharapkan gaji bulanan yang jelas, side job yang menjurus [udah pasti malah] ke korupsi, kolusi dan nepotisme serta kerjaan yang ringan. Padahal kalau dipikir dengan kejelasan penghasilan yang diterima sebenarnya juga berarti ketidakjelasan masa depan. Yah, itung-itungan masa depan jadi bisa dengan mudah dilakukan karena gaji bulanan yang sudah jelas diterima.

Yah sudahlah, setiap orang memang punya pilihan masing-masing.

Sekarang masih bulan Juni, rasanya Austus masih lama sekali. Berharap OSPEK segera tiba. Mau menyalurkan segala kepenatan.

***
Continue reading...

Kamis, 04 Juni 2009

KONSEKUENSI,,

Sudah 2 pagi belakangan ini hujan terus turun dan berhenti pada jam 7 nya. Setelah beberapa waktu hanya mengisi blog dengan lirik lagu untuk mengatasi kevakuman, akhirnya pagi ini saya memulai untuk menulis kembali. Memulai untuk melakukan kegiatan yang sepertinya telah cukup lama tertinggalkan.

Sudah dua hari berlalu sejak ujian sidang penentuan kelulusan. Pagi ini saya mulai dengan membaca koleksi komik lama saya, Yu-Gi-Oh. Nostalgia membaca komik dengan cerita-cerita ringan, sesuatu yang sudah lama tak saya lakukan. Heh, saya jadi merindukan masa-masa ketika sibuk mengoleksi komik dan membahasnya dengan teman-teman saya.

Oya, kemarin kiriman buku yang saya pesan baru saja sampai. Lumayan cepat juga, rasanya ini cara yang cukup praktis untuk membeli buku. Rectoverso dan Catatan Seorang Demonstran [Soe Hok Gie]. Khusus untuk CSD, senang rasanya bisa mendapatkan buku ini. Sudah cari di berbagai toko buku tapi tak pernah ketemu, akhirnya Buku legendaris catatan seorang aktivis idealis ini berada dalam genggaman saya, seutuhnya.

Isi buku ini merupakan catatan harian dari Soe Hok Gie, seorang aktivis yang meninggal pada usia 27 tahun di puncak gunung Semeru akibat keracunan gas kawah gunung. Buku dengan sampul berwarna hitam, merah dan putih ini merupakan tuangan kegalauan dari seorang aktivis intelektual dari kalangan sekuler.

Sudah beberapa minggu sejak saya mulai menarik diri dari kesibukan organisasi, dan efeknya saat ini mulai terlihat. Hubungan saya dengan beberapa orang di organisasi yang semula akrab berubah menjadi kaku. Mungkin karena saya yang menjauh memang, tapi baguslah, memang itu yang saya harapkan.

Saya tak ingin terlalu larut dalam suasana emosional yang pada akhirnya hanya melahirkan romantisme-romantisme tolol yang hampir tak ada gunanya. Kalaulah akibat dari semua ini adalah kesendirian maka saya akan lebih menyukai hal tersebut. Rasanya kesendirian lebih baik daripada hidup terkotak-kotakkan dan saling menjatuhkan. Bukankah Tuhan juga berkuasa dengan kesendiriannya.

Mengharapkan kebenaran dari hidup yang terkotak-kotakkan seperti itu naif rasanya. Mencari kebenaran perlu dilakukan dengan membuka pintu, jendela dan seluruh saluran kebenaran. Menerima cahaya kebenaran dari langit dari segala penjuru. Karena kebenaran hanya ada di langit, di dunia hanya ada palsu, palsu dan palsu...

***

Continue reading...

Senin, 27 April 2009

I'm Sorry Goodbye..

Sebelum bertemu denganmu, hidupku bahagia
Semenjak bertemu denganmu, ku makin bahagia
Semakin lama, semakin terungkap yang sesungguhnya
Sedikit kecewa, ternyata engkau tak baik

Maafkanku harus pergi
Ku tak suka dengan ini
Aku tak bodoh,
Seperti pemilikmu yang lain

Terima kasih oh, tuhan
Kau tunjukkan siapa dia
Maaf kau kujual
So thank u so much
I’m sorry goodbye..


-teruntuk MIO (Mochu) ku- Continue reading...

Jumat, 17 April 2009

Masuk Koran,,

Hari ini nama saya muncul di koran lokal Kota ini (Batampos). Bukan karena pengiriman opini yang kerap saya lakukan tapi berita feature tentang proses quick count yang beberapa waktu lalu KAMMI selenggarakan.

Malu rasanya masuk koran seperti ini.

-semoga bukan dalam upaya untuk tetap exist-
Continue reading...

Selasa, 07 April 2009

Antara Tugas dan Waktu,,

Kemarin adalah saat dimana saya berkumpul kembali dengan teman-teman saya. Saya kangen mereka, setelah selama ini saya menghabiskan waktu di tempat magang dan berjumpa dengan orang-orang itu saja dan aktivitas yang itu-itu saja, kemarin saya kembali ke kampus rapat, diskusi dan tertawa bersama mereka. menikmati hari-hari akhir saya sebagai seorang mahasiswa.

otak saya yang kemarin sempat mandeg, tak bisa bekerja dengan normal dan malas selalu melakukan sesuatu kemarin berputar kembali. Dan berbagai macam proyek sudah menumpuk di depan mata. mulai dari akademis, organisasi, bisnis dan lainnya.

Hmm, tugas kita memang lebih banyak dari waktu yang tersedia..
Continue reading...