Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Januari 2010

Let's We Call It, PNSpreneur !


"Orang yang memiliki jiwa enterpreneur dan selalu melihat segala peluang sebagai peluang yang kemungkinan bisa menjadi bisnis. Ketika jiwa enterpreneur ini diimplementasikan di tempat yang tepat hasilnya akan positif, tetapi apabila diimplementasikan di institusi pemerintah tempat bekerja, bisa jadi sumber korupsi yang maha dahsyat dan mengerikan. Orang ini diharapkan ketika melihat berjubelnya pendaftaran PNS dan mendengar keluhan 4 juta PNS di Indonesia tentang gaji mereka yang rendah selalu berpikir untuk mempunyai perusahaan dan bisa membuka lapangan kerja baru bagi 4 juta orang di Indonesia. Mungkin posisi itu lebih tepat."

Saya dapat kutipan di atas dari sebuah catatan di facebook (klik disini untuk baca selengkpapnya). Judulnya "PNS cocok untuk siapa?" Menarik membaca artikel ini terlebih lagi poin yang saya kutip ini mengingat fenomena PNS lover yang terjadi di negeri ini. PNS merupakan profesi impian bagi setiap orang di negeri ini, pokoknya kalu sudah jadi PNS kehidupan sampe meninggal nanti bakal terjamin. Itu anggapannya. Berangkat dari persepsi seperti ini maka ketika ada lowongan PNS tak tanggung-tanggung, ribuan orang mengadu nasib mendapatkan status PNS tersebut.

Lalu, salahkah menjadi PNS tersebut? O, tentu saja tidak. PNS itu abdi masyarakat, pekerjaan mulia. Hanya saja di lapangan tak seperti itu kenyataannya. kerap kali para PNS tersebut bertindak sesukanya bahkan cenderung semena-mena dalam memberikan layanan kepada masyarakat. (Coba deh bandingin masuk ke bank sama masuk ke Kecamatan)

Nah, jadi memang tidak ada yang salah dengan menjadi PNS, tapi tentu saja saya tidak senang dengan teman-teman sesama aktivis yang ikut-ikutan jadi PNS. PNS itu simbol kenyamanan, aktivis yang sudah terbiasa dengan ketidaknyamanan harusnya malu ketika masuk dalam zona nyaman. Ini opini saya, kalau anda punya pendapat lain ya terserah.

Nyaman
Sekarang mari kita bahas, kenapa PNS adalah simbol kenyamanan. menjadi PNS artinya anda akan dapat penghasilan seumur hidup (walaupun terbatas). Pekerjaan ini minus resiko, Bahkan saat ketika tidak bekerja lagi pun mereka akan tetap dibayar. Nyaman kan? Jelas! ini yang dicari, JAMINAN MASA TUA yang jelas. Padahal kejelasan pendapatan sama dengan ketidakjelasan masa depan.

Hukum menjadi PNS adalah "Susah masuk, susah keluar". Susah untuk mendapatkan status PNS dan susah untuk keluar dari PNS. Berbeda dengan di perusahaan yang ada kemungkinan untuk diberhentikan atau dipecat, menjadi PNS kemungkinan untuk itu sangat kecil. Kalau tidak karena pelanggaran berat seperti narkoba atau Zina maka pemecatan tak akan bisa dilakukan. Jadi kalau cuman sekedar tidak disiplin atau pelayanan tidak memuaskan paling mentok hukumannya dimutasi ke daerah lain atau penundaan kenaikan pangkat.

Mungkin perlu ada revolusi besar-besaran untuk meniadakan kenyamanan seperti ini di dalam dunia PNS.

PNS+Entrepreneur
Pernah dengar Kulinerpreneur, Technopreneur atau Creativepreneur? Nah ternyata dimanapun kita berada kita bisa menjadi entrepreneur. Hanya saja harus diperhatikan dimana diaplikasikannya. Jika penempatannya tepat ia akan berakhir dengan hasil yang positif tapi kalau salah tentu saja bisa destruktif.

Menurut wikipedia, pengertian entrepreneur adalah "a person who has possession of a new enterprise, venture or idea, and assumes significant accountability for the inherent risks and the outcome. He or she is an ambitious leader who combines land, labor, and capital to often create and market new goods or services."

Berangkat dari pengertian tersebut jika digabungkan dengan profesi sebagai PNS maka akan sangat berbahaya jadinya. Bagi PNS yang memiliki jiwa entrepreneur ini, ia akan melihat setiap PELUANG yang ada dalam institusinya sebagai UANG. Hasilnya kerugian angagaran rakyat, korupsi Mega Raksasa kemungkinan besar terjadi.

Closing
Jadi, jika kita memiliki jiwa entrepreneur maka jauhkan pikiran untuk menjadi PNS. fokuslah menjadi seorang entrepreneur. Toh lebih aman dan enak, karena kalaupun kaya dengan menjadi seorang entrepreneur sejati maka kita tidak jadi pembicaraan orang banyak. Berbeda sekali kalau kita jadi PNS kaya, orang-orang bakal banyak yang mikir "ni orang pasti korupsi, kalo ngurus-ngurus mesti selalu minta administrasi"

Huuft, pasti hidup seperti ini sama sekali jauh dari kata nyaman dan menggembirakan.

Continue reading...

Minggu, 09 Agustus 2009

OSPEK itu Ujian Komitmen,,

Sudah beberapa hari ini saya selalu ditagih untuk menulis. Salah saya juga sepertinya karena sejatinya saya sendiri yang berjanji. Jadilah saya selalu diteror karenanya, terutama oleh Noe. Anak kecil ini hampir tiap hari bahkan tiap pesan singkatnya selalu menyisipkan pertanyaan yang serupa ancaman bagi saya.

Tema tulisan yang saya janjikan adalah seputar OSPEK. Kegiatan yang merupakan warisan zaman Belanda ini sampai sekarang masih terus menjadi kontroversi, bagi mereka mahasiswa pengusung nilai-nilai kesamaan maka Ospek yang mereka rasakan harus juga dirasakan oleh mahasiswa baru berikutnya. Lain lagi dengan mahasiswa pengusung hak azasi, bagi mereka kegiatan ini sungguh sangat tidak manusiawi.

Bagi saya sendiri, kedua model mahasiswa ini sudah pernah saya jalani. Sebagai pengusung hak Azasi dan pengusung prinsip kesamaan. Tak ada yang salah dan tak pula ada yang benar. Karena kebenaran hakiki hanya ada di langit, di bumi kebenaran itu hanya serupa semburat sinar saja dari langit yang ketika sampai di Bumi semua kadang hanya semu belaka.

Suka atau tidak, Ospek merupakan kegiatan yang harus ada. Karena ia merupakan gerbang awal seorang mahasiswa untuk mengenal dunia kampusnya. Banyak hal menarik, kenangan-kenangan tak terlupakan, teman, sahabat bahkan pacar bisa bermula dari sini. Tapi itu sedikit kesenangan saja, karena kesenangan ini ternyata harus dibayar mahal dengan kegiatan perpeloncoan.

Nah, untuk kegiatan satu ini, saya yakin tak ada orang yang ingin mengalaminya 2 kali. Tapi untuk melakukan kegiatan ini maka banyak orang yang ingin berkali-kali. Lantas apa saja biasanya bentuk perpeloncoan ini? Bentakan, makian, dan hinaan itu biasa. Kalau sedang sial, kekerasan fisik pun bukan tak mungkin menimpa. Perbuatan-perbuatan bodoh yang kadang tak masuk akal pun seringkali diperintahkan agar dilakukan, hanya untuk sekedar lucu-lucuan. Tapi betapapun tak masuk akalnya tetap saja hal itu dilakukan, lebih karena perasaan takut atau rasa menghormati senior saja.

Rasanya pastilah sangat tidak menyenangkan. Tapi watak perpeloncoan memang seperti itu, disukai atau tidak dia tetap harus ada. Anggap saja sebagai latihan, karena hidup memang tak bisa lepas dari yang namanya perpeloncoan. Perpeloncoan bukan sekedar tradisi balas dendam dari senior pada juniornya. Kalau kita pahami maknanya maka perpeloncoan merupakan sebuah ujian bagi sebuah komitmen. Bahwa kehidupan kampus itu keras pastinya. Untuk yang ingin benar-benar menjadi mahasiswa maka pekerjaannya bukan hanya sekedar belajar akademik saja, tapi ada kewajiban untuk riset dan pengabdian pada masyarakat. Karena ketika fokusnya hanya pada akademik dan mengabaikan yang lainnya maka apa bedanya dengan dulu ketika masih jadi pelajar.

Jadi perpeloncoan benar-benar merupakan sebuah ujian komitmen para mahasiswa baru untuk mengarungi kehidupan kemahasiswaannya.

Tentu saja harus ada perbaikan ke depannya agar perpeloncoan lebih rasional, maksudnya sekalipun ingin mengerjai maka harus masuk akal. Tidak boleh membodohi, karena tentu saja hal itu tidak mendidik sama sekali. Kalau ingin lucu-lucuan tapi tak mendidik tonton saja tawa sutra itu. Saya termasuk orang yang paling tak suka dibodohi, apalagi ketika ternyata orang yang membodohi saya itu tak lebih pintar dari saya. Ini yang terjadi ketika saat saya di pelonco dulu, senior yang mengerjai saya itu ternyata mengulang mata kuliah dan belajar bersama di kelas saya. Akhirnya, rasa menghormati senior yang harusnya ada itu hilang begitu saja. “Lha, pantesan aja guyonannya bodo, wong orangnya juga bodo” pikir saya saat itu.

***

Continue reading...

Rabu, 17 Juni 2009

PARADOKS KELULUSAN,,

Rasanya malas sekali beraktivitas hari ini. Penyakit lama selalu kambuh kalau sudah begini, tapi tinggal 2 minggu lagi dan setelah itu semuanya akan selesai. Semoga diberi kekuatan untuk menjalani sisa 2 minggu ini. Haah, rasanya belakangan ini saya jadi sering mengeluh, menghadapi berbagai kenyataan yang tak sesuai dengan harapan membuat saya jatuh kecewa. Tak ada yang ideal di dunia memang.

---

Kemarin baru saja pengumuman kelulusan. Aksi corat-coret dan konvoi tetap menjadi ritual yang tak tertinggalkan. Saya tak menyalahkan, toh dulu ketika lulus-lulusan saya juga melakukannya [walau akhirnya menyesal karena cat yang menempel di rambut tak bisa sepenuhnya dibersihkan hingga harus botak lagi]. Melihat mereka yang lulus saya menjadi berpikir, mereka yang lulus ini akan kemana nantinya. Hanya menambah angka-angka pengangguran dan menambah beban negara atau mampu menjadi sebuah agen peradaban yang mampu berkontribusi bagi negeri ini.

Sebagian dari mereka akan berebut melamar kerja, sebagian lagi mengisi ketidaksiapannya untuk turun ke dunia kerja dengan kuliah di kampus yang tersedia walau jurusannya tak dikenali sebelumnya. “Yang penting kuliah lah, dapet gelar dan tak terlihat sebagai pengangguran” ini pemikiran bodoh saya ketika pertama kali memutuskan untuk melanjutkan kuliah.

Kurang lebih dua bulan lagi, saya akan sama seperti mereka. Wisuda. Rasanya ini tujuan akhir kuliah. Dan ketika mendekati garis finish, saya semakin kebingungan dan cemas. “Mau kemana saya setelah ini?” bergabung lagi dengan tempat magang yang sekarang, tentu tak mungkin, saya sudah tak merasa cocok disana. Terlalu kompromistis, tak sesuai dengan saya. Sampai hari ini saya masih mengalami ketidakjelasan masa depan. Menjadi orang yang mencoba untuk terus idealis atau berubah jadi pragmatis dan mengalah dengan nilai-nilai di sekitar.
Tadi malam saya melakukan pertemuan dengan senior saya waktu di kampus. Banyak hal yang kami bicarakan. Tapi intinya adalah keinginannya untuk membentuk sebuah wadah pemuda untuk menanggapi isu-isu yang ada di batam khususnya masalah lingkungan. Saya pikir tak ada salahnya saya menerima tawaran ini.

---

Untuk para anggota dewan Batam yang baru terpilih sekarang, kurang lebih dua bulan jugga dari sekarang akan segera dilantik. Acara seremonial [lagi-lagi] yang memakan dana luar biasa besar sudah disiapkan. Fasilitas seperti baju dan lencana pun telah dipesan. Wajah-wajah baru yang siap merealisasikan janji-janjinya ketika kampanye kemarin.

Tapi lagi-lagi saya hanya melihat mereka sebagai politisi kelas kolam. Sempit dan tak menantang sama sekali. Walaupun didominasi oleh wajah-wajah baru dan muda, saya pesimis akan adanya perubahan. Sejauh yang saya lihat, hampir sama saja, sudah bersiap-siap untuk bermain proyek juga.

Semoga saya yang salah dan terlalu cepat mengambil keputusan.

***
Continue reading...

Jumat, 12 Juni 2009

KEINDONESIAAN KITA,,

Entah kenapa, malam ini saya kepikiran tentang pengaruh anak. Pengaruh dari buku yang saya baca tampaknya. Kecintaan terhadap anak mampu membutakan orang tua akan segalanya. Ada yang rela mempermalukan dirinya asal anaknya selamat, membuka aibnya agar aib sang anak tertutupi dan barisan yang kecewa paling pertama saat anak-anaknya mengalami kegagalan. Sebuah ambisi pribadi yang menjurus pada eksploitir anak menurut saya.

Kepada anak saya nanti, saya ingin mencintainya tanpa emosional sama sekali.

---

Film KCB diputar perdana kemarin. Imam jadi orang pertama yang begitu menggebu mengajak saya untuk menonton film tersebut. Ada amin, juang, sugi, andres juga ikut bujuknya, tapi setelah saya konfirmasi pada orang yang bersangkutan mereka jawab belum tahu mau ikut atau enggak. Heh, penipu juga ni orang.

Saya memang sama sekali tak berminat menonton film ini. Dari melihat trailernya saja saya tak suka. “Film Indonesia pertama yang syuting di Mesir”. Terus kenapa memangnya? Adakah itu sebuah prestasi? Sama sekali saya tak melihat itu. Saya tak senang dengan itu. Kurangkah tempat indah dan menawan di negeri ini. Ah, itu kan biar sama dengan latar novel best sellernya. Kalau seperti ini saya akan salahkan penulisnya. Tak bisakah ia menulis novel picisan best seller dengan berlatar indonesia saja.

Lagi yang lain yang tak saya senangi adalah efek sehabis nonton film ini. Ada orang yang sangat benci dan rasanya menganggap salah orang yang bergaya kebarat-baratan. Menggunakan pakaian dan bergaul ala kebarat-baratan tak sesuai dengan tradisi ketimuran katanya. Tapi efek menonton film ini saya pikir akan sama dengan efek film AAC sebelumnya. Tiba-tiba saja banyak orang menggunakan bahasa arab dalam pergaulan, cadar, celak dan semua yang berbau kearab-araban. Saya rasa itu bukan sebuah kesadaran akan berislam, tapi sebuah kesadaran tentang adanya sebuah dandanan baru yang menarik.

Kalau kebarat-baratan adalah sebuah kesalahan, maka saya pikir kearab-araban juga sama saja. Saya jadi mempertanyakan, di tengah banyaknya budaya di Indonesia rasanya tak ada sama sekali yang dibanggakan. Saya jadi mempertanyakan keindonesiaan kita.

**Selain kebarat-baratan dan kearab-araban satu lagi yang tak saya senangi adalah kejepang-jepangan [ada beberapa yang bergaya seperti ini]

---

Kemarin saya berpapasan dengan Windri MS di kampus. Dia menyapa saya dan bertanya tentang masalah sidang kemarin. Saya jawab sudah selesai dan berlalu begitu saja. Malamnya saya beberapa kali sms-an dengannya. Membawa saya teringat pada kejadian beberapa semester yang lalu. Saya lelah sekali malam itu.

***

Continue reading...

Kamis, 11 Juni 2009

PEMKORUP,,

Pukul 3:39 selesai mencetak buku TA 4 rangkap. Untung persediaan kertas yang cuma 1 rim cukup, jadi besok tinggal jilid. Setelah itu saya harus masih menemui beberapa orang untuk minta tanda tangan sebagai bukti bahwa saya bebas masalah [sepertinya saya tak pernah buat masalah]. Tinggal laboratorium, pembimbing TA, wali kelas, perpustakaan dan kaprodi, tinggal(?) itu artinya saya baru bebas masalah keuangan saja, Hmm, target besok wali kelas sama laboratorium harus sudah selesai.

Kemarin saya baru saja dapat sms dari pepenk lagi. Mulanya dia tanya apa kegiatan saya setelah jadi free-man sekarang ini, akhirnya dia ngajak ketemuan lagi buat bahas pemikiran-pemikiran yang masih belum bisa terealisasi semasa di K-PAL. Saya menyetujuinya, saya bilang hari minggu ini atau hari apapun mulai minggu depan. Sisa hari ke depan ini saya mau mempersiapkan LPj untuk Mubes LPM, untuk masalah jalan-jalan saya serahkan ke Wa, Farika, Halimah(?), Ridho dan Taufik (S1) aja. Pulau abang aja gimana(?) Diving disana pasti seru.

Rasanya saya makin muak saja dengan semua kebobrokan ini, tapi di sisi lain saya juga sering bingung, apa yang harus dan bisa saya lakukan. Tak mungkin orang-orang di atas itu tidak tahu bagaimana pola-pola kerja staff di bawahnya, tapi hal-hal seperti ini tetap saja terjadi. Kemarin pagi saya adalah satu-satunya anak magang yang ikut briefing pagi itu [karena cuma saya sendiri disana] yang lain pergi ke dinas semua untuk mengambil Dokumen lelang. Sugi ke Dinas PU dan Amin serta Juang ke Dinas Tata Kota.

Sekitar pukul ½ 11, Amin dan Juang tiba dan segera saja mereka cerita kejadian disana. Untuk biaya fotokopi dokumen lelang mereka dimintai Rp. 150.000 masing-masing. Jadi totalnya Rp. 300.000. SHIT. Fotokopi dimana si TUMBUR (ini orang pegawai dinas tata kota, kenalin, salah satu oknum PNS korup yang saya kenal, tapi saya masih belum punya bukti) itu, Cuma ambil dokumen yang kurang lebih 100 halaman saja sampai seharga segitu. Mendengar cerita itu jelas saja saya bingung, kaget bercampur marah, kami membahas itu seru sampai akhirnya Hadi keluar bertanya ada apa. Hhh, dia terlalu kompromistis rupanya, dia malah memilih lebih baik damai. Sudah saya duga saya tak cocok disini, terlalu pragmatis. Berbisnis dengan pemerintah memang seperti ini agaknya, tak profesional, birokrasi yang terlalu rumit dan berbelit. Tak bisakah semuanya selesai dengan jabat tangan saja, Bukankah birokrasi yang rumit adalah salah satu peluang untuk melakukan korupsi.

Saya rasa ini sudah keterlaluan, harus ada yang berani membongkar ini. Tapi permasalahannya pungli ini ibarat “babi ngepet”, ramai dibicarakan tapi susah untuk dibuktikan. Mental pengusahanya juga korup jadi sama saja. Ah, kalian masih terlalu muda. Paling itu yang selalu dijadikan alasan ketika hal-hal seperti ini kami anggap masalah besar.

Susah punya pemimpin yang hanya memikirkan pencitraan diri dan takut mengambil kebijakan non-populis. Yang dipikirkan hanya bagaimana bisa meraih citra diri yang baik sebagai bekal untuk mempertahankan jabatan atau naik ke jabatan yang lebih tinggi lagi. Sehingga soal-soal seperti ini selalu dianggap tak penting karena tak ada pengaruhnya dengan pencitraan diri.

AN****!!!

Continue reading...

Jumat, 05 Juni 2009

Ini tentang Lingkungan kita [Batam Khususnya]

Selamat hari lingkungan hidup..!!

5 Juni ini adalah hari lingkungan hidup sedunia, bertepatan dengan hari ini pula Kota Batam tercinta menerima penghargaan adipura. Untuk yang ketiga kalinya pula. Masalah kriteria penilaian yang dipakai entahlah, penilaian secara objektif atau memang ada permainan di bawah meja.

Masih banyak permasalahan-permasalahan lingkungan yang ada di Batam sebenarnya. Reklamasi tanah yang menggila di daerah punggur [bahkan di bengkong pun ada], tempat penampungan limbah serta emisi gas buang baik dari kendaraan maupun industri. Yah, dari yang kecil saja sebenarnya masih banyak permasalahan, sampah berserakan di TOS3000 yang belum terpecahkan, drainase yang hampir kacau balau [kalau tak ingin disebut rusak parah] mengakibatkan rusaknya jalan dan air tergenang bak kolam renang dan laut Hitam di Tanjung Uma [lihat, Batam pun punya laut hitam].

Tanggung jawab siapa?

Mengandalkan pemerintah sama dengan mengharapkan hujan di gurun pasir, hampir mustahil. Perjabat-pejabat itu cuman mikirin dirinya dan keluarganya. Kalau sampah itu atau limbah itu tidak membahayakan keluarganya maka peduli setan dengan itu semua. Rakyat cukup dijanjikan, dan mereka akan segera diam.

Pejabat Birokrat gendut itu hanya tahu bermalas-malasan saja di kantornya. Tanda tangan, terima duit main game komputer lagi. Mudah-mudahan ga cepet kena kolesterol orang-orang kayak gitu.

Dan untuk memperbaiki semua ini, perlu sebuah gerakan revolusioner dari para pemudanya. Orang-orang yang bisa bergerak lebih dinamis, cepat dan tepat dalam bertindak. Kalau jihad bisa dalam bentuk apa saja, rasanya jihad dalam bidang lingkungan juga perlu menjadi perhatian untuk melakukan perbaikan.

***Rata Penuh

Continue reading...

Rabu, 13 Mei 2009

Ini Masalah Tugas Kita Masing-Masing,,



"Di Gunung Kidul, Yogyakarta, seorang nenek tewas tercebur dalam sumur. Berbondong-bondong masyarakat membantu menangani evakuasi mayatnya. Seorang pemuda dengan pakaian dan seluruh tubuh basah kuyup masuk ke dalam sumur untuk mengangkat mayat nenek naas tersebut. Warga lain di atas berkerumun memberikan arahan dan menjaga tali yang menyangga pemuda kurus dengan wajah pucat pasi kedinginan itu. dengan perjuangan yang berat akhirnya jenazah nenek tersebut berhasil diangkat keluar dari sumur tersebut. Warga bergegas mengurusi jenazah tersebut.."

***

"Di tempat lain, sejumlah petinggi parpol yang sudah tergabung dalam koalisi terancam pecah karena merasa ada pengkhianatan. Komunikasi yang tidak berjalan dengan terbuka antara partai pemenang pemilu dengan partai lain yang tergabung dalam koalisi menimbulkan sakit hati. Entah memang serius mau memperbaiki negeri atau takut karena tak kebagian kursi, wallahualam. Yang pasti di seluruh media, hal ini menjadi topik yang sedang panas saat ini. kejutan-kejutan politik yang sulit tertebak di negeri ini memang sangat menarik. Bola panas itu sampai saat ini masih terus bergulir belum tahu kemana akan berhentinya."

***

Itu sekelumit berita yang kulihat pagi ini.

Sebuah pemandangan yang menunjukkan bahwa tiap-tiap orang memiliki tugasanya masing-masing. begitupun tiap-tipa kelompok dan golongan. Kelompok elit dan pejabat memiliki tugas memikirkan stabilitas keamanan, pertumbuhan ekonomi dan hubungan dengan negara lain, semua yang berhubungan dengan urusan global. Sedangkan kelompok masyarakat, tugasnya adalah saling tolong menolong, membantu antar sesama mereka. membantu kalau ada tetangga yang menjadi korban kebakaran, terlilit hutang sampai urusan pemakaman. semua yang berurusan dengan urusan lokal.

Yah, di negeri ini semua memang harus mengurusi urusannya masing-masing. Rakyat dengan permasalahannya, wakil rakyat dengan urusannya dan pemerintah juga dengan urusannya sendiri.

Hingga salah akhirnya kalau rakyat mengharapkan wakil rakyat atau pemerintah yang memberikan bantuan pada mereka.
Continue reading...

Sabtu, 09 Mei 2009

WANITA

Kamis kemarin saya menghabiskan waktu sore saya di sebuah mall, menonton X-MEN ORIGINS : WOLVERINE. Berkisah tentang masa lalu wolverine. Yang menarik dari film ini ialah betapa ternyata orang sekasar dan sekuat Wolverine mampu takluk dan diperdaya oleh seorang wanita.

Saya ingin menulis tentang itu dalam postingan kali ini,

Di balik keberhasilan seorang pemimpin besar pasti ada peran seorang wanita besar di belakangnya. Begitupun sebaliknya kejatuhan seorang pemimpin besar juga karena peran seorang wanita luar biasa di belakangnya.

Contoh keberhasilan seorang pemimpin umat terbesar sepanjang sejarah peradaban manusia hingga saat ini ialah Nabi Muhammad SAW, dan di balik keberhasilannnya tentu saja nama-nama seperti Siti Khadijah atau Aisyah tak bisa dinafikan.

Dan kejatuhan para pemimpin besar dapat kikta temukan pada julius cesar karena kecintaannya pada cleopatra. Serta Imperia yang mampu menaklukkan Raja Sigismund dan Paus Martinus V, dua orang berpengaruh yang berada dalam genggamannya penuh. Satu petinggi negara dan satu pemuka agama, dalam genggaman seorang wanita yang bahkan sering dipandang sebelah mata oleh masyarakat (Imperia, Akmal Nasery Basral)

Fenomena ini terus berlanjut hingga sekarang, terseretnya Antasari Azhar dalam kasus pembunuhan yang ditengarai karena Cinta segitiga membuat kisah Imperia terasa hidup kembali. Kisah dimana seorang Caddy golf mampu menaklukkan 2 orang besar dalam genggamannya. Seorang petinggi negara dan seorang pengusaha. Wanita yang mampu memaksa seorang terhormat melakukan tindakan tidak terhormat.

Wanita dengan kelembutannya mampu memaksa seseorang melakukan tindakan-tindakan konstruktif ataupun destruktif. Prestasi atau degradasi. Makin menguatkan teori Sigmund Freud, Psikoanals gila yang mengatakan “Prestasi manusia terjadi, karena keinginan dipuji lawan jenisnya semata “Prestasi manusia terjadi, karena keinginan dipuji lawan jenisnya semata.”

Bahaya..

Continue reading...

Jumat, 01 Mei 2009

KASIHAN Kau BABE..

Babe, kata-kata ini sering didengar baik di film, sinetron ataupun kehidupan sehari-hari. Lazimnya di sematkan antara 2 insan yang sedang jatuh cinta. Saling panggil memanggil dengan sebutan ‘babe’ membuat hubungan yang sedang dijalani menjadi tambah romantis tampaknya. “Udah makan babe?”, “kamu gak papa kan babe?”

Terdengar indah memang, ada kesan romantis yang timbul memang dari sebutan itu (bandingkan kalau saling memanggil dengan sebutan tikus, sapi, atau kecoa). Hingga tak heran kalau akhirnya semua pasangan seperti berlomba memanggil pasangannya dengan sebutan ini, meski kadang memang esensi dari panggilan itu tak diketahui sama sekali oleh si pengguna. Ah, biarlah yang penting kan bagus dan indah kedengarannya, begitu mungkin pikir mereka.

Saya sendiri sempat salah tafsir akan arti dari sebutan ini. Semula saya berpikir, yah mungkin artinya sayang atau sesuatu sejenisnya lah, tapi ternyata saya salah sama sekali.

Arti sebenarnya saya dapatkan ketika sedang mencari kata di kamus dalam laptop saya. Entah kenapa saya menuliskan kata-kata itu “babe” dalam kolom search, dan yang muncul kemudian cukup mengejutkan karena disana tertera “babe kb. 1 bayi. 2 orang kurang pengalaman, pelonco.

Sebuah penemuan yang cukup membuat saya tersenyum simpul. Kalau bayi saja mungkin lucu tapi orang kurang pengalaman, pelonco, Aduh, saya tak habis pikir ada orang yang dengan rela dan senang hati disebut orang kurang pengalaman.

Kemudian arti pelonco berikutnya mengartikan bahwa kegiatan yang dilakukan sebenarnya hanya merupakan sebuah kegiatan perpeloncoan. Kegiatan yang saya yakin tak ada 1 orang waraspun di dunia ini yang menyukainya. Kegiatan dimana kita dipaksa untuk mau melakukan perbuatan-perbuatan bodoh yang bahkan merendahkan diri, harkat dan martabat sebagai seorang manusia yang tercipta sempurna. Kegiatan yang memaksa kita untuk melakukan hal-hal serta tindakan memalukan, kegiatan yang hanya menghasilkan rasa sakit hati dan dendam di akhir pelaksanaannya.

Baiklah, akhir tulisan ini. Saya tak menyarankan anda untuk tidak mempunyai hubungan mesra dengan seseorang karena itu sesuatu yang salah ataupun melarang atau apapun karena sepenuhnya itu hak anda. Hanya saja saya ingin mengingatkan, ada baiknya kita berpikir lebih dalam tentang apa yang kita akan lakukan atau kita buat. Jangan sampai apa yang kita lakukan hanya membuktikan betapa tak digunakannya “otak” yang kita miliki. Yah, sepele memang hanyalah sebuah panggilan, tapi ternyata panggilan itu menyiratkan betapa kurang berpengalamannya kita.

Dan untuk seluruh BABE di dunia, saya hanya bisa berkata : KASIHAN KAU BABE..

Continue reading...

Rabu, 18 Maret 2009

Negeri ini perlu diswastanisasi,,

hari ini saya mendapatkan kenyataan bahwa dalam soal pelayanan negeri ini memang tak bisa memberikan yang terbaik bagi rakyatnya. berbagai realitas tentang persoalan ini banyak terjadi di sekitar kita. banyak contohnya, pengurusan KTP yang lama dan berbelit-belit, pengurusan surat usaha yang juga tak kalah lama, masalah yang berhubungan dengan birokrasi selalu lama bahkan kadang tak jelas juntrungannya.

Hari ini saya mengalaminya sendiri. di kantor yang hampir berubah jadi tempat belajar kelompok itu saya mendapati bahwa negara ini memang tak becus mengurusi rakyatnya. pegawai disana hampir kehilangan sopan santun sama sekali menghadapi orng-orang yang membayar biaya hidu mereka tiap bulannya.

Datang kesana tanpa bekal sedikitpun tentang persoalan yang akan saya urus, saya pun coba bertanya dengan petugas disana. Sambutan yang sangat tidak ramah diberikan mereka, jangankan menyambut dengan senyum dan sapaan "ada yang bisa dibantu?" mereka malah terlihat pura-pura tak tahu. Saya jadi heran ini orang atau batu?

Akhirnya setelah celingak-celinguk kebingungan disana saya bertanya pada seorang pegawai disana. Hasilnya, saya dioper dari satu meja ke meja yang lain. "Pegawai disini pada bisa kerja gak sih?" teriak saya dalam hati. Untuk pertanyaan yang harus dijawab dengan pertanyaan simpel saja mereka tak mau, tak bisa, atau tak tahu.

Dengan perlakuan seperti ini, sontak saya langsung tak bisa terima. tapi untuk teriak-teriak disana saya masih belum lakukan karena logika saya masih mampu menahannya. dan dengan perasaan marah yang amat sangat, saya berlalu pergi tanpa megucapkan terima kasih atau basa-basi sedikitpun dengan pegawai yang sedang ada di hadapan saya.

Dalam perjalanan, saya hanya berpikir negeri ini baiknya di swastanisasi saja. semua pelayanan tadi pasti tak akan terjadi kalau swasta yang mengelola. senyum dan pelayanan terbaik selalu menjadi komitmen yang dipegang oleh perusahaan swasta. Pegawai-pegawai negeri itu perlu tambahan pendidikan moral tiap minggunya, agar mereka bisa menghargai orang-orang yang membayar biaya hidup mereka.
Continue reading...

Berita hari ini..

Tersangka kasus dugaan korupsi pembangunan dermaga dan pelabuhan di kawasan Indonesia Timur Abdul Hadi Djamal menyebut anggota FPKS Rama Pratama yang duduk di Panitia Anggaran DPR juga terlibat dalam pertemuan informal di Hotel Ritz Carlton, Jakarta. Abdul Hadi juga menyebut tidak semua politisi PKS itu bersih karena Rama ikut mempengaruhi putusan dan memberikan persetujuan.

"susah nyari yang benar-benar BERSIH.."
Continue reading...

Kamis, 12 Maret 2009

dejavu Problematika,,



kemarin saya seperti mengalami dejavu. rasanya kok mirip ya dengan apa yang terjadi pada saya. kejadiannya persis sama. Dan karena kemudian permasalahan ini sampai saat inipun belum saya dapatkan pemecahannya, jadilah saya hanya mengatakan "berarti ini PR kita bersama"

saya tak ingin percaya karma, tapi lantas kalau kejadian hampir serupa ini terjadi pantasnya disebut apa? Ataukah in sebuah kemestian dalam suatu periode. Tak, saya lebih tak ingin percaya lagi.

Makin lama semua harus makin baik. ini yang disebut progress. kalau periode ini sama dengan kemarin ya berarti sama saja dengan kemunduran.

Menyendiri, untuk kemudian mundur atau mengalah lalu mundur jelas bukan pilihan bijak. saya sering mengalami hal ini, selalu berpikir untuk mundur dan lepas dari komunitas, tapi yang terjadi kemudian saya tak bisa melepaskannya dan makin larut di dalamnya. komunitas ini punya kekuatan ajaib yang membuat orang-orang di dalamnya sulit untuk meninggalkannya.

kalaulah terjadi intrik-intrik sedikit, yah pahami saja sebagai bumbu dari komunitas ini. gesekan terjadi karena kita terlalu dekat, ia tak akan ada kalau kita berjauhan. Oleh karena itu, persoalan-persoalan yang ada dalam sebuah perjalanan adalah kepastian, malah jadi pertanyaan kalau tak ada kemudian. Benarkah kita dekat selama ini, atau hanya sekedar dekat?
didekatkan dengan slogan-slogan dan moto.

kedekatan (baca:persaudaraan) macam apa pula yang seperti ini?

katanya; teman sejati itu bukan orang yang selalu mengiyakan perkataan kita, tapi orang yang berseberangan dengan kita.

banyak pemimpin yang menjadi besar karena dikelilingi oleh kritik dan musuh. Dan banyak pemimpin yang jatuh karena hanya dikelilingi para pemuja.

Maka, ini mungkin hanya permasalahan komunikasi. tak ada yang perlu disalahkan kecuali diri sendiri. Karena pekerjaan yang paling berat adalah mengarahkan telunjuk kita pada diri sendiri saat ada sebuah masalah terjadi.

dan pilihan mundur, sekali lagi bukan pilihan yang bijak. ia wajib dipikirkan berjut-juta kali lagi.

waktu muda itu sekali saja, jadi jangan sekalipun di sia-siakan.

"kuliah itu bisa di usia kapan saja, tapi yang paling penting sekarang adalah bagaimana menjadi problem solver di usia muda" (dikutip dari pertemuan pekanan malam itu)
Continue reading...

Rabu, 11 Februari 2009

PESAN SINGKAT dari RUMAH SAKIT JIWA,,

Siang ini aku mendapatkan sebuah pesan singkat dari seorang teman yang sekarang sedang berada di rumah sakit jiwa di Pekanbaru. Dalam rangka magang atau plesiran kurang tahu juga tapi yang pasti menyenangkan sepertinya berada disana. Sebuah tebakan sepihak. Tapi bukan masalah keberadaan dia disana yang akan jadi bahasan tulisan ini. Kembali ke akar permasalahannya, isi pesan singkat yang dikirimkan padaku –dan teman yang lain mungkin.

Begini kira-kira isi smsnya, aku kutipkan secara bebas untuk anda pembaca dan pengunjung blog yang terhormat ;

“Da lelucon dari yusuf kalla di tribun riau.
Belliau mengatakan “pendi2kn di tanh air qt luar biasa.buktina obama.
Dy lu2san SD Indonesia bs jd presidaen AS. Tu baru SD.
Coba mpe skrg lu2san univ.
Di AS gk da kan yg prnh jd presiden RI?
(beri tanggapan)”

Isi sms yang sempat membuatku tersenyum antara geli dan getir. Betapa ternyata untuk menjadi seorang presiden di negeri adidaya hanya perlu sekolah sampai SD di negeri sekelas indonesia. Hal yang sangat menggelikan sekaligus menyedihkan karena ternyata pendidikan yang benar dan berkualitas di negeri ini hanya terjadi di sekolah dasar –ini dulu mungkin, sekarang semua sama. Selebihnya setelah itu, sekolah hanya tempat indoktrinasi, menyeragamkan pola pikir, membelenggu kreativitas, tempat mengajarkan kekejaman, pewarisan dendam dan sarana mencari gelar untuk menjadi pesuruh di negerinya sendiri.

Pantas saja banyak orang tua yang menyekolahkan anaknya ke luar negeri. Dulu aku selalu berpikir, kalau mereka yang menyekolahkan anaknya di luar negeri adalah orang sombong yang tak cinta tanah air. Namun belakangan, paradigma ini sedikit berubah, bukan karena sombong atau ingin bergaya namun lebih pada ketidakpercayaan pada mutu dan kualitas pendidikan di negeri ini. Ada masalah yang lebih kompleks di balik itu semua, bukan sekedar tak adanya rasa patriotisme dalam diri.

Pendidikan di negeri ini tak hanya dikhianati rakyatnya sendiri, jauh sebelum itu para elit telah melakukannya terlebih dahulu. Memotong anggaran pendidikan, korupsi dan lainnya membuktikan betapa tak pedulinya mereka terhadap kualitas pendidikan di negeri ini. Ketidakpedulian yang terjadi entah secara sengaja atau tidak.

Hal menggelikan lainnya adalah ternyata begitu mudahnya hal-hal remeh menjadi sesuatu yang besar di negeri ini. Amerika yang dapat presiden baru, Indonesia yang kegirangan dan bangga, sebuah kebanggaan sepihak hanya karena presiden terpilih pernah bersekolah di indonesia. Padahal menguntungkan atau berpihak pada Indonesia pun belum tentu dia lakukan. Ah, yang penting dia pernah tinggal di Indonesia, tercantum di curriculum vitaenya nama negara kita tercinta, cukuplah itu menjadi sebuah kebanggaan, added value katanya.

Yah, Obama hanya cukup beruntung SD di Indonesia kemudian segera pindah. Kalau dia nekat meneruskan sampai kuliah disini, mungkin nasibnya tak akan berbeda dengan lulusan perguruan tinggi lainnya di negeri ini. Jadi pengangguran. Yah, lulusan perguruan tinggi dan pemuda di negeri ini lebih berpengalaman menjadi pengangguran ketimbang memiliki pengalaman kerja.

Dan Akhirnya, tak perlu jadi seorang penguasa untuk dapat menguasai sesuatu. Cukuplah jadi pedagang. Amerika sudah membuktikannya. Tak ada seorangpun Amerika yang jadi presiden di negeri ini, tapi mereka bisa menguasai presiden Indonesia. Lihat saja exxon, freeport dan perusahaan Amerika lainnya, apa yang sudah mereka lakukan? menjarah kekayaan Indonesia, menyengsarakan rakyat tapi apa yang dilakukan presiden Indonesia? Diam saja. Yah, karena dia sudah dikuasai mereka.
Continue reading...

Senin, 02 Februari 2009

MARI MENJADI ANEH..!!

Bila ingin berkembang jangan takut dianggap konyol dan bodoh
-Phititis, filosof-

Ada beberapa pandangan yang sepertinya harus kurubah. Selama ini aku selalu merasa risih dengan orang-orang yang bersikap, bertindak dan berpemikiran aneh. Keanehan mereka bagiku merupakan sebuah bentuk pertunjukan kebodohan serta kekonyolan di depan publik. Kebodohan serta kekonyolan yang menurutku adalah aib yang harusnya disimpan dalam diri, jangan sampai diketahui.

Namun sepertinya pandanganku selama ini salah. Keanehan yang dipertontonkan lebih merupakan bentuk penunjukkan eksistensi. Salah satu cara agar orang menyadari keberadaannya, mengenali dirinya. Semula aku maish belum percaya, sampai aku membaca kalimat ini dan jelaslah semuanya.

Membatasi diri, menjaga reputasi memang penting. Tapi tak berarti harus terus-terusan memakai topeng agar terlihat seperti manusia sempurna. Di tempat-tempat tertentu mungkin perlu, tapi diperlukan juga keanehan sebagai wujud dari ekspresi diri yang perlu dilepaskan sesekali.

Hidup memang harus seimbang, keseriusan harus pula disertai dengan kekonyolan. Maka keanehan harus pula diadakan dalam diri setiap pribadi. Tentu saja harus ada batasan-batasan syar’i untuk itu. Jangan sampai keanehan kita yang terlalu kebablasan malah membuat orang merendahkan kita.

Yah, bila ingin maju dan berkembang maka jangan pernah takut untuk dianggap aneh oleh orang-orang di sekitar. Karena banyak penemuan besar yang juga menjadi bahan ejekan serta cemoohan dulunya. Lantas salahkah orang yang mengolok tersebut. Tentu tidak. Mereka benar, yang anehpun benar. Mereka yang mengolok adalah pihak yang benar karena memang pikirannya membenarkan itu, bahwa mengolok impian yang terefleksi dalam keanehan adalah benar. Akal mereka terlalu sehat, sehingga semua yang tak masuk akal adalah kebodohan. Mereka menafikan hadirnya keajaiban dari yang tak terbatas. Sementara si Aneh, dia pun benar. Akalnya yang tak sepenuhnya sehat membuat impian jauh dari hitung-hitungan logika semata yang kadang membawanya pada peluang keberhasilan yang tak dilihat orang yang terlalu sehat akalnya.

Jadi, kalau ingin sukses menjadi aneh kurasa tak ada salahnya...

Continue reading...

Kamis, 29 Januari 2009

Adik Sejuta Umat,,

Istilah ini baru kudapatkan beberapa hari yang lalu. Adik sejuta umat, lucu kan? Kalau biasanya ada ustadz sejuta umat maka sekarang ada adik sejuta umat. Sebenarnya julukan ini merujuk untuk orang yang dianggap adik oleh setiap orang. Yang paling kecil di komunitasnya. Bahasa kasarnya sih Adik umum, Adik yang bisa dimiliki semua pihak. Dan semoga nasibnya tak seperti semua yang menempel kata “umum”, rusak tak terawat.

Baik, cukup definisi awalnya. Sekarang masuk ke coretan yang aku rasa tak terlalu penting. Ini hanyalah sebuah pembiasaan untuk selalu menulis tiap hari. Oleh karena itu, jangan berharap terlalu banyak manfaat dari tulisan ini. Atau kalau mungkin anda orang yang sangat menghargai waktu anda maka aku sarankan untuk menyudahi membaca tulisan ini.

Menjadi angkatan paling atas di kampus maka artinya menyadari bahwa akulah yang paling tua di komunitas mahasiswa di kampus. Membiasakan diri untuk terbiasa dipanggil “kakak” atau “bang”. Walau sebenarnya secara pribadi aku tak suka bentuk panggilan seperti ini. Tapi yah mau gimana lagi, negara ini negara yang menjunjung tinggi norma kesopanan hingga untuk memanggil yang lebih tua harus disertai kata-kata itu.

Bersamaan dengan itu pula, saat ini aku memiliki banyak sekali adik yang juga dimiliki banyak orang. Adik sejuta umat. Mereka orang –orang yang berada di sekitarku, orang-orang yang menjadi teman diskusi, orang-orang biasa dengan potensi yang luar biasa. Mereka yang menjadi adikku, yang ingin berubah, yang ingin lepas dari rutinitas mahasiswa yang monoton.

Dari sekian banyak adik sejuta umatku tak banyak memang yang dekat, dan ini yang membuatku mendapatkan sebuah sms yang berisikan protes. Protes karena aku hanya peduli pada beberapa orang dan tak memperhatikan yang lainnnya. Yang kurasa memang ada benarnya juga, salah aku memang pada awalnya. Harus ada perbaikan disana-sini, karena bagaimanapun ternyata mereka juga butuh diperhatikan.

Huff, kadang rasanya melelahkan harus terus-terusan seperti ini. Mencoba membagi perhatian, mencoba peduli dan mengerti tanpa seorangpun yang mau mengerti.
Continue reading...

Rabu, 28 Januari 2009

Pembohongan Publik itu Masih Berlanjut

Pagi ini aku mendengarkan salah satu stasiun radio di Batam untuk mengumpulkan informasi seputar Batam. Seharian tidak kemana-mana membuatku benar-benar ketinggalan informasi. Dan ini sangat tidak menyenangkan rasanya. Banyak hal yang terjadi, belum habis pro-kontra fatwa MUI tentang haramnya rokok, sekarang ditambah lagi fatwa MUI tentang Golput. Selain itu keluhan dan masukan untuk kota Batam tentang berbagai hal yang mengganjal bagi masyarakat kota ini juga menjadi tambahan informasi bagiku.

Layaknya sebuah siaran tentunya tak melulu siaran, pastinya kerap diselingi dengan iklan. Beragam pula iklan yang mengudara di radio pagi ini, dari iklan rumah makan, caleg, dan berbagai promosi produk dan jasa lainnya. termasuk salah satunya adalah kampusku. Politeknik Batam, kampus yang selalu digadang-gadang pro dengan pendidikan berkualitas walau kenyataannya wallahualam.

Iklan tentang Politeknik yang kudengar pagi itu cukup membuatku tersentak dan tertawa geli. Dalam iklan itu disebutkan “Politeknik Batam membuka penerimaan mahasiswa baru untuk S1 Dan D3 kelas Reguler” Sebuah hal yang cukup membingungkan, bukankah sebuah Politeknik idealnya hanya menyelenggarakan program D3. Sejak kapan Politeknik bisa menyelenggarakan S1?

Setelah mendengarkan iklan ini yang kulakukan selanjutnya adalah mencari telepon genggamku (TG.ed) dan mengirimkan pesan singkat pada Pak Eko tentang iklan tadi. Pesan singkat yang berisikan sebuah pertanyaan bernada sindiran. Pesan singkat yang aku pun tak berharap untuk dibalas. Pesan singkat yang semoga bisa menjadi perhatian dan menjadi perbaikan untuk kebaikan semua pihak.

Yah, sebuah perbaikan karena bagiku iklan ini sangatlah berbahaya efeknya. Ia bisa menipu puluhan atau bahkan ratusan calon mahasiswa untuk terlibat dalam keruwetan Poltek-UMRAH. Ia bisa menipu calon mahasiswa yang tak tahu nantinya kalau statusnya sebagai mahasiswa bukan mahasiswa Poltek tapi UMRAH. Bagaimana mungkin dapat tercapai pendidikan bermutu di Kepri kalau cara-cara mencapainya dengan pembohongan seperti ini? Bagaimana mungkin calon perguruan tinggi negeri di Kepri itu (UMRAH) bisa berkualitas kalau mahasiswanya nanti adalah barisan sakit hati yang merupakan korban penipuan kampusnya sendiri?

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk merekrut mahasiswa baru UMRAH. Menumbuhkan kepercayaan masyarakat akan UMRAH salah satunya. Tunjukkan prestasi mahasiswa UMRAH dan keunggulan lainnya, masyarakat juga pasti mau masuk tanpa harus ditipu. Banyak mahasiswa UMRAH yang punya potensi luar biasa, saya kenal beberapa dari mereka. Biarkan mereka berekspresi, menunjukkan eksistensi agar masyarakat bisa melihat prestasi. Tapi apa mau dikata, di Batam khususnya UMRAH sendiri masih diakui setengah hati, mereka kadang dianaktirikan. Penumpang itulah status mereka disini. Dan sebagai penumpang tak banyak memang hak yang mereka miliki sekalipun Direktur Politeknik adalah PUREK III Bidang Kemahasiswaan UMRAH sekaligus Dekan FT. UMRAH.

Kadang aku kasihan juga melihat mereka, tapi terlalu membela mereka pun hanya akan membuatku dianggap mencari muka dan provokator, karena aku sendiri mahasiswa Politeknik. Di tahun terakhirku sebagai mahasiswa ternyata masih banyak pekerjaan rumah yang masih belum terselesaikan. Pergerakan mahasiswa Batam baru akan dimulai tapi aku akan segera menjadi penonton. Ah sudahlah, hidup harus tetap berjalan, bukankah tiap-tiap masa ada orang-orangnya. Dan berarti sudah habis masaku disini. Semoga apa yang telah kulakukan bisa menjadi sumbangan catatan bagi mereka yang akan melanjutkan atau minimal menjadi catatan untuk kukenang sendiri.
***
Continue reading...

Minggu, 25 Januari 2009

Penampilan itu Harus...

"Gpp secara fisik minus. tapi innerbeauty bkal memancar dr diri kurcaci.."

banyak orang yang selalu berpendirian demikian. ketika mendapatkan balasan sms seperti ini. aku tak membalasnya. padahal aku begitu ingin memberikan pandanganku waktu itu, hanya karena kurasa terlalu panjang kalau dijelaskan lewat sms dan berkemungkinan besar menimbulkan peperangan maka akupun mengurungkan niat itu.

entah kenapa, akhir-akhir ini aku tak percaya lagi dengan yang namanya kecantikan batiniah (inner beauty). "don't judge a book by its cover, pepatah inggris lama ini tak relevan lagi rasanya dengan keadaan saat ini. zaman dimana semuanya tak lagi cukup hanya dengan predikat bagus tapi ukurannya adalah bisa dijual atau tidak. good is not enough, it has to be sold.

karena sebagus apapun dalamnya selama ia tak menarik maka jangan harap ia akan dilirik. mungkin akan dilirik ketika tak ada lagi pilihan yang lain. menjadi yang terakhir begitulah nasibnya ketika kemasan tak bagus. sehingga fungsi kemasan luar juga menjadi penting, tak boleh merasa cuek dengan penampilan luar kita karena orang biasanya menilai orang pertama dari penampilan luar-kecuali untuk masalah fisik tentunya.

mungkin memang benar kemasan sebagus apapun tak akan dapat menolong produk yang kualitasnya memang jelek. toh yang dikonsumsi isinya bukan kemasannya, begitu kebanyakan orang berpikir. tapi perlu jadi bahan pertimbangan juga, sekalipun produknya berkualitas tinggi namun kemasannya tidak menarik maka percuma saja pembeli tak akan tertarik.

bagaimana mungkin kita bisa tahu wanita yang sering memakai rok pink, baju hijau menyala, sorban, lipstik tebal itu adalah seorang yang rakin mengaji dan baik hati. kita sudah terlanjur menganggap dia terlalu mengerikan untuk didekati.

itu masih mending bayangkan kalau dengan penampilan seperti itu ternyata sifatnya juga tak kalah beringas. dan banyak memang yang seperti itu. kemasan dan isi tak berbeda jauh. ini yang menjadi masalah kemudian.

Continue reading...