hari ini saya baru saja pulang dari KPU..
-test posting-
Continue reading...
Rabu, 25 Februari 2009
Minggu, 22 Februari 2009
Teori Psikoanalis,,
“Prestasi manusia terjadi, karena keinginan dipuji lawan jenisnya semata” (Sigmund Freud)
Tak ingin mengakui, tapi sulit untuk diingkari... Continue reading...
Tak ingin mengakui, tapi sulit untuk diingkari... Continue reading...
Jumat, 20 Februari 2009
Drona dan Saya,,
Makin lama sepertinya makin tak ada yang saya kerjakan disini. Saya sering linglung, berada dalam sebuah komunitas dengan tingkat pergerakan yang sangat cepat membuat saya kadang harus terseok-seok mengejar. Banyak hal berubah disini, dan saya kerap hanya menjadi penonton di pinggir lapangan. Sementara saya sibuk dengan keluh kesah, mengkritisi kesalahan orang lain dan beretorika sebagai pledoi atas kemalasan saya, mereka, adik-adik saya itu telah dengan begitu cepatnya melakukan akselerasi-akselerasi untuk peradaban.
Sementara mereka sibuk berkutat dengan hal-hal besar untuk perbaikan umat, saya disini masih sibuk bertengkar untuk menganggap diri yang paling benar.
Ya, saya seperti Mahaguru Drona yang meminta Bima mencari Tirta Prawidhi. Tak ada bedanya. Sementara Bima berhasil mendapatkan Tirta Prawidhi, arti kehidupan yang sebenarnya, Drona malah terbongkar keburukannya. Drona bahkan belum mendapatkan apa yang dia suruh cari itu. Hanya kebusukan serta kebobrokan yang terlihat kemudian dari Drona. Ketika saya sibuk memberi nasihat dan tugas kepada mereka yang kadang terdengar mustahil, mereka tak peduli, mereka mengerjakan dengan sepenuh hati. Mereka berhasil dan saya selalu masih tertinggal disini.
Saat saya masih selalu dihantui rasa pesimis ketika mengadakan suatu kegiatan, mereka muncul dengan optimismenya yang luar biasa. Hingga kadang malu rasanya.
Lantas, kualitas hidup macam apa pula yang saya miliki kalau seperti ini..?
Continue reading...
Sementara mereka sibuk berkutat dengan hal-hal besar untuk perbaikan umat, saya disini masih sibuk bertengkar untuk menganggap diri yang paling benar.
Ya, saya seperti Mahaguru Drona yang meminta Bima mencari Tirta Prawidhi. Tak ada bedanya. Sementara Bima berhasil mendapatkan Tirta Prawidhi, arti kehidupan yang sebenarnya, Drona malah terbongkar keburukannya. Drona bahkan belum mendapatkan apa yang dia suruh cari itu. Hanya kebusukan serta kebobrokan yang terlihat kemudian dari Drona. Ketika saya sibuk memberi nasihat dan tugas kepada mereka yang kadang terdengar mustahil, mereka tak peduli, mereka mengerjakan dengan sepenuh hati. Mereka berhasil dan saya selalu masih tertinggal disini.
Saat saya masih selalu dihantui rasa pesimis ketika mengadakan suatu kegiatan, mereka muncul dengan optimismenya yang luar biasa. Hingga kadang malu rasanya.
Lantas, kualitas hidup macam apa pula yang saya miliki kalau seperti ini..?
Selasa, 17 Februari 2009
SETOKOK MENOHOK,,

Pesan singkat yang sebelumnya saya terima mendorong saya untuk mengikuti kegiatan ke pantai itu. Setokok tepatnya. Bukan untuk menjadi relawan seperti yang lainnya. tapi sebuah bentuk pelepasan ketegangan sehari-hari. Jadilah saya dan teman saya satu lagi kerjanya hanya memprovokasi. Yah, kami hanya sekedar ingin senang-senang disana. Pelajaran teamwork atau memenangkan tiap pertandingan tak menjadi fokus utama –walau akhirnya kami memenangkan semua pertandingan. Yang penting menghibur diri dan bersenang-senang sudah cukup bagi saya, karena memang itu tujuannya.
Keberangkatan diawali dengan segenap keraguan, teman saya hampir tak jadi ikut karena diberi tugas mendadak. Saya tak ingin jadi yang paling tua disana, karena itu saya memaksa dia untuk ikut. Akhirnya dia putuskan untuk ikut juga, baiklah, saya pun segera berangkat menuju tempat kami berkumpul sebelumnya.
Sesampainya disana, saya merasa salah tempat lagi. Semua membawa tas ransel dan perlengkapan lainnya, sementara saya, celana jeans, tas selempang kecil yang isnya hanya buku, pena, dan topi. “mau konser bang?” ledek salah seorang adik kelas saya. Kurang ajar. Saya hanya mengutuki dalam hati, di luar saya harus tetap tenang sambil mengeluarkan berbagai alibi.
Rencana disana, saya hanya ingin duduk-duduk, keliling sambil main air, tak ada sedikitpun keinginan untuk mengikuti kegiatan demi kegiatan yang diselenggarakan. Tapi entah kenapa pada akhirnya, saya mengikuti hampir seluruh kegiatan tersebut. Mulai dari perkenalan, permainan angka, lomba merayap di air, mengisi air dengan spons sampai menara manusia.
Memancing keributan itu yang kerap saya lakukan, hampir tiap kegiatan selalu ada provokasi, hampir setiap kegiatan selalu diakhiri dengan kerusuhan. Lucu, menyenangkan lagi. Yah, yang ingin saya lakukan hanya tertawa, bersenang-senang, dan semuanya tak akan tercipta tanpa kerusuhan. Kerusuhan itu yang menumbuhkan keakraban. Makin brutal makin baik hasilnya.
Lelah, ya setelah mengikuti semua kegiatan itu saya rasakan seluruh badan saya merasa lelah. Capek tertawa sebenarnya. Tak ubahnya orang ketika kesurupan, badan saya merasa lelah tapi saya puas luar biasa. Yah, hati saya senang saat itu, kalau saja tak dirusak dengan agenda terakhir. Agenda utama dari kegiatan ini. Agenda yang mendorong saya untuk memaksakan diri ikut dalam kegiatan ini.
Rapat itu, lagi-lagi tak menyenangkan suasananya. Sejak awal saya sudah merasakan itu. Penting tidaknya sesuatu mungkin memang relatif. Tingkatnya berbeda antara yang satu dengan yang lain, dan apa yang dirapatkan kemarin hampir tak ada satupun yang penting menurut saya. Rasa penasaran saya yang sudah begitu lama tak terobati karenanya, malah ia berganti dengan kekecewaan.
Kekecewaan karena makin lama tingkat pendengaran disini makin parah saja. Tak ada orang yang mau mendengarkan pendapat antara yang satu dengan yang lain. semuanya selalu dihiasi dengan teriakan –walau tertahan tapi tetap saja nadanya mencerminkan. Entah seperti apa mutu musyawarah yang seperti ini, kalau tiap kali selalu saja ada pihak-pihak yang sakit hati.
Makin lama disini, saya makin malas bicara. Bukan tak ingin klarifikasi, tapi karena semua tak ingin mendengar aspirasi. Bagaimana mungkIn mau menerima kalau mendengar pun tak sudi. Akhirnya, paling saya hanya menulis disini. Tulisan yang paling hanya menjadi curahan hati saya selama ini. Mengharapkan tulisan ini dibaca sepenuhnyapun sesuatu yang muluk rasanya. Karena bukan hanya pendengar yang buruk tapi juga karena kita adalah pembaca yang buruk.
Setokok hari itu hanya menambah kelelahan fisik dan hati saya saja.
Continue reading...
Keberangkatan diawali dengan segenap keraguan, teman saya hampir tak jadi ikut karena diberi tugas mendadak. Saya tak ingin jadi yang paling tua disana, karena itu saya memaksa dia untuk ikut. Akhirnya dia putuskan untuk ikut juga, baiklah, saya pun segera berangkat menuju tempat kami berkumpul sebelumnya.
Sesampainya disana, saya merasa salah tempat lagi. Semua membawa tas ransel dan perlengkapan lainnya, sementara saya, celana jeans, tas selempang kecil yang isnya hanya buku, pena, dan topi. “mau konser bang?” ledek salah seorang adik kelas saya. Kurang ajar. Saya hanya mengutuki dalam hati, di luar saya harus tetap tenang sambil mengeluarkan berbagai alibi.
Rencana disana, saya hanya ingin duduk-duduk, keliling sambil main air, tak ada sedikitpun keinginan untuk mengikuti kegiatan demi kegiatan yang diselenggarakan. Tapi entah kenapa pada akhirnya, saya mengikuti hampir seluruh kegiatan tersebut. Mulai dari perkenalan, permainan angka, lomba merayap di air, mengisi air dengan spons sampai menara manusia.
Memancing keributan itu yang kerap saya lakukan, hampir tiap kegiatan selalu ada provokasi, hampir setiap kegiatan selalu diakhiri dengan kerusuhan. Lucu, menyenangkan lagi. Yah, yang ingin saya lakukan hanya tertawa, bersenang-senang, dan semuanya tak akan tercipta tanpa kerusuhan. Kerusuhan itu yang menumbuhkan keakraban. Makin brutal makin baik hasilnya.
Lelah, ya setelah mengikuti semua kegiatan itu saya rasakan seluruh badan saya merasa lelah. Capek tertawa sebenarnya. Tak ubahnya orang ketika kesurupan, badan saya merasa lelah tapi saya puas luar biasa. Yah, hati saya senang saat itu, kalau saja tak dirusak dengan agenda terakhir. Agenda utama dari kegiatan ini. Agenda yang mendorong saya untuk memaksakan diri ikut dalam kegiatan ini.
Rapat itu, lagi-lagi tak menyenangkan suasananya. Sejak awal saya sudah merasakan itu. Penting tidaknya sesuatu mungkin memang relatif. Tingkatnya berbeda antara yang satu dengan yang lain, dan apa yang dirapatkan kemarin hampir tak ada satupun yang penting menurut saya. Rasa penasaran saya yang sudah begitu lama tak terobati karenanya, malah ia berganti dengan kekecewaan.
Kekecewaan karena makin lama tingkat pendengaran disini makin parah saja. Tak ada orang yang mau mendengarkan pendapat antara yang satu dengan yang lain. semuanya selalu dihiasi dengan teriakan –walau tertahan tapi tetap saja nadanya mencerminkan. Entah seperti apa mutu musyawarah yang seperti ini, kalau tiap kali selalu saja ada pihak-pihak yang sakit hati.
Makin lama disini, saya makin malas bicara. Bukan tak ingin klarifikasi, tapi karena semua tak ingin mendengar aspirasi. Bagaimana mungkIn mau menerima kalau mendengar pun tak sudi. Akhirnya, paling saya hanya menulis disini. Tulisan yang paling hanya menjadi curahan hati saya selama ini. Mengharapkan tulisan ini dibaca sepenuhnyapun sesuatu yang muluk rasanya. Karena bukan hanya pendengar yang buruk tapi juga karena kita adalah pembaca yang buruk.
Setokok hari itu hanya menambah kelelahan fisik dan hati saya saja.
Kebiasaan Baru Sore Hari,,
Memasuki libur seperti ini tak banyak aktivitas yang saya lakukan. Hampir sepanjang hari saya habiskan di rumah, hal yang sangat jarang terjadi ketika saat kuliah. Saat kuliah, hampir tak ada waktu rasanya untuk berdiam di rumah. Keberadaan rumah tak ubahnya seperti hotel tempat menumpang tidur saja, tapi yang ini gratis. Seringkali teguran menghampiri tentang itu dari orang rumah. Kadang saya berpikir pilihan menjadi aktivis seringkali membuat saya jauh dari orang terdekat saya termasuk keluarga, saya terlalu sibuk mengurusi hal di luar sana hingga lupa hak-hak orang terdekat dan saya sendiri. Konsekuensi memang, tapi kadang menjurus pada sikap aniaya ke diri sendiri. Ah, apapun itu, saya mencintai kondisi saya sekarang ini. Mungkin hanya butuh sedikit penyesuaian saja agar semua lebih baik.
Menghabiskan waktu di rumah, banyak hal yang saya lakukan dan ini makin mendekatkan saya dengan keluarga. Tiap pagi saya sering mengantar Ibu saya ke pasar, menemaninya, melihat kondisi pasar yang ramai dan menyenangkan. Ada berbagai macam orang disana dengan berbagai macam dagangan.
Kegiatan yang lain adalah mengantar-jemput ayah saya. Yah, sebelum mengantar Ibu saya menjadi tukang ojek bagi ayah saya yang kebetulan kebagian kerja di darat. 2 kali sehari saya harus bolak-balik ke Batu Ampar, melihat perusahaan Shipyard terbesar. Hampir separuh orang Batam bekerja disini, ramai sekali dan besar tentunya. Mc Dermott memang sudah menjadi salah satu ikon perusahaan terbesar di Batam, kedudukannya sama seperti PN Timah dalam laskar pelangi.
Tiap Selasa, Kamis, Sabtu maka ini adalah jadwal untuk mengantar adik les. Masuk sekolah jam 1 tapi harus sudah berangkat jam 9 dari rumah. 3 jam waktu ekstra untuk mendapatkan tambahan pelajaran. Kadang saya berpikir ini bagus atau tidak untuk pertumbuhannya, tak ada waktu bermain sama sekali. Semoga saja baik.
Tapi yang menyenangkan adalah tiap sore tiba. Maka ada ritual khusus baru bagi saya. Ya, tiap sore tiba saya akan duduk di dalam rumah menghadap ke jendela untuk memperhatikan tingkah laku adik saya yang pulang sekolah bersama teman-temannya. Rumah saya memang seperti menjadi tempat transit anak-anak itu sebelum pulang ke rumahnya masing-masing. Hampir tiap hari selalu seperti itu. Melihat mereka seperti mengingatkan saya kembali akan dunia anak yang telah lama saya tinggalkan.
Pertama kali datang yang mereka lakukan adalah duduk berbaris melepas lelah di teras rumah. Sesekali mereka menghiasi dengan tebak-tebakan hingga saling mengejek satu sama lain. Khas anak kecil. Setelah selesai beristirahat biasanya mereka menendang bola di depan rumah. Satu jadi kiper yang lain menendang bergantian. Seringkali tabrakan antar mereka terjadi, jatuh bersama kemudian tertawa bersama pula. Setelah lelah, biasanya mereka duduk kembali, adik saya langsung berlari ke dalam rumah kemudian keluar kembali untuk menjamu teman-temannya dengan air putih dingin. Melihat mereka rebutan, antre menunggu giliran benar-benar membuat saya terbang ke masa lalu saya.
Tak jarang pula percekcokan timbul karena yang satu merasa dicurangi saat bermain. Biasanya mereka meyikapi dengan pulang duluan. Meninggalkan teman-temannya. Hehe, saya persis seperti melihat cermin. Tapi ada yang membedakannya kemudian, keesokan harinya mereka pulang bersama lagi seperti tak ada masalah yang terjadi.
Begitu rendah ternyata kualitas pertemanan saya, bahkan kalah jauh dengan anak-anak itu. Makin dewasa sepertinya orang makin menuju kekanak-kanakan yang sebenarnya. Persoalan kecil menjadi besar, persoalan sepele bisa diselesaikan bertele-tele. Hingga akhirnya para petinggi negeri ini pun saling ejek mengejek tak ubahnya anak kecil, bahkan lebih parah lagi.
Continue reading...
Menghabiskan waktu di rumah, banyak hal yang saya lakukan dan ini makin mendekatkan saya dengan keluarga. Tiap pagi saya sering mengantar Ibu saya ke pasar, menemaninya, melihat kondisi pasar yang ramai dan menyenangkan. Ada berbagai macam orang disana dengan berbagai macam dagangan.
Kegiatan yang lain adalah mengantar-jemput ayah saya. Yah, sebelum mengantar Ibu saya menjadi tukang ojek bagi ayah saya yang kebetulan kebagian kerja di darat. 2 kali sehari saya harus bolak-balik ke Batu Ampar, melihat perusahaan Shipyard terbesar. Hampir separuh orang Batam bekerja disini, ramai sekali dan besar tentunya. Mc Dermott memang sudah menjadi salah satu ikon perusahaan terbesar di Batam, kedudukannya sama seperti PN Timah dalam laskar pelangi.
Tiap Selasa, Kamis, Sabtu maka ini adalah jadwal untuk mengantar adik les. Masuk sekolah jam 1 tapi harus sudah berangkat jam 9 dari rumah. 3 jam waktu ekstra untuk mendapatkan tambahan pelajaran. Kadang saya berpikir ini bagus atau tidak untuk pertumbuhannya, tak ada waktu bermain sama sekali. Semoga saja baik.
Tapi yang menyenangkan adalah tiap sore tiba. Maka ada ritual khusus baru bagi saya. Ya, tiap sore tiba saya akan duduk di dalam rumah menghadap ke jendela untuk memperhatikan tingkah laku adik saya yang pulang sekolah bersama teman-temannya. Rumah saya memang seperti menjadi tempat transit anak-anak itu sebelum pulang ke rumahnya masing-masing. Hampir tiap hari selalu seperti itu. Melihat mereka seperti mengingatkan saya kembali akan dunia anak yang telah lama saya tinggalkan.
Pertama kali datang yang mereka lakukan adalah duduk berbaris melepas lelah di teras rumah. Sesekali mereka menghiasi dengan tebak-tebakan hingga saling mengejek satu sama lain. Khas anak kecil. Setelah selesai beristirahat biasanya mereka menendang bola di depan rumah. Satu jadi kiper yang lain menendang bergantian. Seringkali tabrakan antar mereka terjadi, jatuh bersama kemudian tertawa bersama pula. Setelah lelah, biasanya mereka duduk kembali, adik saya langsung berlari ke dalam rumah kemudian keluar kembali untuk menjamu teman-temannya dengan air putih dingin. Melihat mereka rebutan, antre menunggu giliran benar-benar membuat saya terbang ke masa lalu saya.
Tak jarang pula percekcokan timbul karena yang satu merasa dicurangi saat bermain. Biasanya mereka meyikapi dengan pulang duluan. Meninggalkan teman-temannya. Hehe, saya persis seperti melihat cermin. Tapi ada yang membedakannya kemudian, keesokan harinya mereka pulang bersama lagi seperti tak ada masalah yang terjadi.
Begitu rendah ternyata kualitas pertemanan saya, bahkan kalah jauh dengan anak-anak itu. Makin dewasa sepertinya orang makin menuju kekanak-kanakan yang sebenarnya. Persoalan kecil menjadi besar, persoalan sepele bisa diselesaikan bertele-tele. Hingga akhirnya para petinggi negeri ini pun saling ejek mengejek tak ubahnya anak kecil, bahkan lebih parah lagi.
Langganan:
Postingan (Atom)
